Saturday, September 18, 2021
Home Saham Saham Nikel Kembali Berdarah, Sektor Perbankan Rebut Panggung

Saham Nikel Kembali Berdarah, Sektor Perbankan Rebut Panggung

Portalsaham.com– Saham emiten pertambangan nikel kembali berdarah-darah. Sejumlah emiten berada di tren yang negatif di minggu ini. Saham nikel dengan market cap terbesar seperti Aneka Tambang (ANTM) dan Timah (TINS) kembali berada di jajaran loser pada perdagangan hari ini, Jumat, 26 Februari 2021.

Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini pun berada dalam tren bearish atau melemah. Berdasarkan data RTI, per pukul 14.33, harga saham anjlok 1,08% turun ke level 6220.699. Tercatat 121 saham menguat, 374 saham anjlok, dan 141 saham stagnan. 

IHSG masih tertolong dengan performa saham sektor keuangan. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) masih diminati asing. Investor asing di perdagangan hari ini, belanja saham BBRI sebesar Rp 130 miliar. Selain BBRI, asing pun nampak tertarik membeli saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Tabungan Negara (BBTN), masing-masing sahamnya dibeli asing senilai Rp 95 miliar dan Rp 48 miliar. 

BACA JUGA: IHSG Turun 0,35%, Sektor Industri Dasar dan Keuangan Jadi Penyelamat

Pada jajaran top gainers pun, saham sektor keuangan mendominasi. Lima besar saham teraktif hari ini ditempati oleh sektor keuangan. Di antaranya BNBA, BTGT, BBHI, INPC, dan BBYB. 

Sementara itu, saham pertambangan nikel mengisi jajaran top loser hari ini. Di antaranya Timah Tbk yang harga sahamnya anjok -5,19, INCO (-4,37), ANTM (-3,38), HRUM (-6,23%). 

BACA JUGA: Saham Nikel Serempak Melemah, HRUM Paling Terkoreksi

Melemahnya IHSG pada perdagangan di akhir pekan ini salah satunya dipengaruhi oleh melemahnya tiga indeks utama Bursa New York yang turun lebih dari 1,5%. Indeks Dow Jones melemah 1,75%. S&P 500 anjlok 2,5% dan Nasdaq Composite anjlok paling parah dengan koreksi 3,5%.

Penyebab utama anjloknya  saham-saham di AS masih sama yaitu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil nominal untuk US Treasury tersebut kini sudah tembus 1,5% sekaligus menjadi level tertinggi dalam satu tahun.

Kenaikan yield tersebut membuat harga saham berjatuhan karena dua hal. Yield yang lebih tinggi ini merefleksikan ekspektasi inflasi yang tinggi sebagai akibat dari pulihnya permintaan dan ekonomi.

Babak belurnya harga saham pun dirasakan oleh sejumlah pasar modal di sejumlah negara Asia. 

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular