Kamus Saham

[title style=”center” text=”Kamus saham” tag_name=”h1″]

[row]

[col span__sm=”12″]

Mau tau istilah – istilah saham dan investasi yang harus dipahami investor dan trader? Yuk simak dengan bahasa yang mudah dimengerti ala Portal Saham.

[/col]

[/row]
[row]

[col span=”3″ span__sm=”12″]

[accordion]

[accordion-item title=”Analisa Fundamental Saham”]

Analisa fundamental merupakan salah satu dari dua metode bagi investor untuk menilai sebuah perusahaan layak di beli atau tidak. Pembelian saham perusahaan menggunakan analisa fundamental memiliki tujuan untuk investasi jangka Panjang dengan durasi investasi minimal di atas 3 tahun. 
 

Sangat keliru jika analisa fundamental dipakai untuk membeli saham yang diharapkan bulan depan bisa naik, semester besok bisa naik, bahkan tahun depan akan tumbuh. Jika ingin mencari saham demikian, maka lebih tepat menggunakan Analisa teknikal daripada Analisa fundamental. 

Analisa fundamental adalah analisa mendalam sebuah perusahaan, dan kita perlu ingat bahwa penjualan & laba bersih perusahaan tidak bergerak naik turun tajam seperti harga saham. Jadi, efek dari Analisa fundamental akan terpengaruh oleh kinerja perusahaan dan sifatnya adalah jangka panjang. 
 

Analisa fundamental yang digunakan untuk membeli saham sebuah perusahaan sama persis seperti melakukan proyeksi bisnis ketika kamu akan membuka bisnis baru dari NOL. Berapa penjualannya? Berapa marginnya? Berapa estimasi profitnya? Namun bedanya adalah, ketika buka bisnis dari NOL, kamu tidak ada data historis. Hanya kata si A, kata si B, serta feeling. Ketika beli saham di bursa efek, ada data masa lalu yang bisa dipelajari dan dianalisa. Jadi, dengan investasi fundamental saham, kamu SELANGKAH DI DEPAN daripada buka bisnis dari NOL. 

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Analisa Teknikal Saham”]

Dear All,

Banyak sekali pendekatan/ metode dalam melakukan transaksi jual beli saham. Bahkan tidak sedikit kita mendapat rekomendasi dari pihak – pihak lain mengenai apa yang bagus dan apa yang jelek. Tetapi apakah kita sudah menemukan metode yang terbaik bagi diri kita sendiri? Atau kita masih hanyut di market meraba – raba metode yang paling cocok dan akhirnya hasilnya negatif?

Apakah anda sering mengalami hal – hal seperti di bawah ini:

  1. Beli saham yang beritanya bagus, malah harga bergerak turun.
  2. Menjual saham yang beritanya jelek, malah harga bergerak naik.
  3. Membeli saham yang PER & PBV paling rendah, harga tidak naik – naik
  4. Menjual saham yang PER & PBV paling tinggi, harga terus melambung
  5. Beli saham yang banyak rumor positif-nya, naik hanya sekejap lalu turun kembali. Atau tidak bergerak sama sekali.
  6. Jual saham ketika bursa global turun, harga turun sesaat saja lalu terus bergerak naik
  7. Meraih keuntungan dari trading jangka pendek, tapi tidak mengikuti  ketika saham tersebut rally hingga 100%.
  8. Meraih keuntungan dari trading jangka pendek, tapi nyangkut ketika saham tersebut anjlok 25 – 50%
  9. Tidak melakukan apa – apa karena bingung apa yang harus dibeli / dijual

Jika anda banyak menjawab YA pada hal – hal di atas, maka anda perlu melanjutkan membaca di bawah ini:)

Hal di atas sering kita alami karena kita tidak memperhitungkan ‘Timing & Momentum’. Timing & Momentum menjadi faktor yang menentukan seberapa cepat / lambat sebuah saham akan bergerak sesuai dengan kalkulasi. Dengan mengetahui Timing & Momentum, kita bisa memaksimalkan dana kita untuk alokasi saham – saham yang berpeluang naik, ataupun seleksi saham – saham yang berpeluang turun.

Di bursa terdapat 450+ saham. Banyak perusahan jelek, tapi tidak sedikit pula perusahaan yang bagus. Perusahaan bagus sahamnya pun belum tentu bagus. Apa maksudnya? Good Company not always have Good Stock. Perusahaan yang fundamentalnya bagus (laba bersih, prospek jangka panjang, manajemen, dll) bisa jadi pergerakan sahamnya tidak likuid dan bergerak tanpa arah yang jelas. Jika perusahaan bagus saja sahamnya belum tentu bagus, apalagi perusahaan yang jelek. Setuju?

Jadi ketika anda menganalisa saham berdasarkan fundamental seperti valuasi, nilai intrinsik, atau yang lebih sederhana seperti PER, PBV, dll, anda berada dalam tahapan mencari perusahan yang bagus (Good Company). Pertanyaannya, apakah selanjutnya saham perusahaan ini bagus (Good Stock)?

Bagaimana menentukan saham ini bagus apa tidak? Dengan melihat apakah pergerakannya bagus apa tidak. Naik apa tidak? Likuid apa tidak? Pergerakannya bisa diprediksi apa tidak? Ini jawaban yang harus anda temukan. Mencari perusahaan yang baik saja itu lebih mudah daripada mencari saham perusahaan bagus yang juga bergerak bagus:)

Disinilah analisa teknikal memegang peranan. Semua berkaitan dengan Timing & Momentum. Dengan kemampuan menganalisa waktu dan momentum, kita dapat fokus pada saham bagus, meminimalisir bias pada informasi, rumor, sentimen eksternal, dll. Dengan demikian kita akan lebih objektif dalam mengambil keputusan.

Bayangkan jika anda bisa memilih Good Company with Good Stock, investasi / trading anda akan memberikan keuntungan yang maksimal bukan?

Apakah ada risiko? Tentu ada. Yaitu jika harga saham bergerak negatif. Entah karena sudah naik ketinggian, atau perusahaan yang awalnya berfundamental bagus menjadi jelek karena faktor – faktor eksternal maupun internal. Hal ini dapat diantisipasi lebih cepat dengan menggunakan analisa teknikal.

Jadi, analisa teknikal dalam penerapan yang tepat dapat membantu anda lebih cepat membeli saham yang akan bergerak dalam tren naik dan lebih cepat menjual saham yang akan bergerak dalam tren turun. Dengan demikian, akankah anda mengalami nyangkut? Entah nyangkut singkat maupun nyangkut bertahun – tahun? Tentu tidak bukan.

Terakhir, analisa teknikal (serta fundamental) menuntut kedisiplinan dari penggunanya. Dengan disiplin melaksanakannya, maka hasil trading/ investasi anda akan maksimal dan anda akan selalu dapat mengantisipasi apapun kondisi yang terjadi di bursa akibat faktor eksternal maupun internal.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Auto Rejection”]

Penolakan otomatis oleh JATS terhadap penawaran jual dana atau permintaan beli efek yang dimasukkan ke JATS akibat dilammpauinya batas harga yang ditetapkan oleh bursa.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bearish”]

Sebuah kondisi dimana harga bergerak turun kebawah (downtrend), dianalogikan dengan gerakan beruang (bear) yang membungkuk ketika memangsa.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Beli Saham Online”]

Gimana Cara Beli Saham & Prosesnya

  1. Buka aplikasi online trading (OLT) yang disediakan broker saham kamu.
  2. Lakukan order beli saham.
  3. Setelah kamu dapat sahamnya, kamu akan dikonfirmasi oleh broker saham bahwa kamu dapat saham BBCA di harga Rp.11.500 sebanyak 10 Lot.
  4. Di akhir hari bursa, sekuritas akan mengirimkan Trade Confirmation.
  5. Sesuai dengan peraturan bursa, proses settlement transaksi jual beli saham itu adalah 2 hari kerja (T+2). Artinya, jika kamu beli saham di hari Senin, 24 Agustus 2015, maka settlement terjadi pada hari Rabu, 26 Agustus 2015.
  6. Settlement itu apa? Sederhananya, yang beli, dapat barang (saham) nya dan harus bayar uangnya. Yang jual dapat uangnya, kirim barangnya. Tenang, semua ini yang urus sekuritas via rekening saham kamu.
  7. Jadi pada hari Rabu, 27 Agustus 2015, uang di RDN kamu akan berkurang sebanyak Rp.11.500.000,-, portfolio saham kamu akan ada tambahan BBCA 10 lot di harga beli Rp. 11.500,-

Jadi kebayang ya, proses dari awal mula beli saham hingga proses settlement kamu dapet sahamnya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Biaya Simpan Saham”]

Banyak juga yang bertanya apakah ada biaya jika kita menyimpan saham, baik biaya bulanan atau tahunan. Nah menariknya investasi saham ini adalah tidak ada biaya apapun selama kita menyimpan saham kita. Baik menyimpan hanya 1 bulan hingga puluhan tahun. 

Berbeda ya dengan investasi properti, dimana ada biaya service charge bulanan, atau biaya RT/RW, atau bahkan biaya pajak (PBB) tahunan. 

Untuk investasi saham, tidak ada biaya apapun selama menyimpan saham. Yang ada malah dapet duit terus, jika saham yang disimpan perusahaannya terus berkembang dan rutin membagikan dividen.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Biaya Transaksi Saham”]

Setiap transaksi saham pasti ada biayanya. Baik transaksi beli maupun transaksi jual. Nah, biaya transaksi, atau bahasa kerennya fee transaksi ini akan berbeda – beda setiap broker. Namun kisaran fee transaksi itu di 0.1% – 0.3% dari total nominal transaksi kita. Kecil kan? Ga seperti fee transaksi broker property yang kisarannnya 1% – 3%.

Makin tinggi fee transaksi, biasanya layanan dari perusahaan sekuritas semakin tinggi pula. Termasuk kualitas analisa, layanan nasabah, dan sebagainya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bid Offer Saham”]

Anda sudah buka rekening saham, sudah install online trading apps Anda, dan bingung gimana lihat harga dan cara beli sahamnya? Ini menunya banyak banget, mana yang dilihat? Well, Anda perlu tahu mengenai Bid & Offer di saham yang Anda inginkan. Tempatnya ada di bagian: stock quote.

Stock quote adalah data yang berisi harga sebuah saham dimana kita akan mengetahui harga permintaan (bid) maupun harga penawaran (offer) di pasar di saat itu (real time). Disini Anda bisa melihat para pembeli dari harga tertinggi hingga terendah, serta para penjual dari harga terendah hingga tertinggi.

Dengan mengetahui sekumpulan harga di sisi pembeli dan di sisi penjual, Anda bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di pasar saat itu, apakah lebih banyak calon pembeli daripada calon penjual, atau sebaliknya lebih banyak calon penjual daripada calon pembeli. Ingat, semua yang ada di bid offer saham ini adalah bersifat antrian. belum tentu harga tercapai ke level yang Anda inginkan.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Blue Chip”]

Perusahaan bluechip adalah perusahaan unggulan di pasar modal dan menjadi buruan para investor besar maupun investor asing. Umumnya perusaan bluechip itu memiliki karakter antara lain:

  1. Skala bisnisnya besar, baik nasional maupun internasional.
  2. Sudah ada di pasar modal lebih dari 5 tahun.
  3. Memiliki produk yang sangat besar penetrasinya di pasar
  4. Memiliki laporan keuangan yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.
  5. Banyak dimiliki oleh dana besar seperti reksadana, dana pensiun, asuransi, dan sebagainya.
  6. Kinerja bisnis tergolong tahan banting, bahkan di tengah kondisi ekonomi yang tidak terlalu bagus sekalipun.

Saham beluechip umumnya memberikan peluang bagi kita sebagai investor untuk berinvestasi jangka panjang, bahkan sangat panjang hingga pensiun, dan kita bisa menikmati pertumbuhan bisnis yang luar biasa dari waktu ke waktu dan menikmati passive income dari deviden.

Jika poin – poin di atas merupakan ciri – ciri saham bluechip, pengen tahu ga sih apa sih ciri – ciri perusahaan yang sahamnya sangat layak kita beli untuk investasi jangka panjang dan bisa memberikan keuntungan lebih tinggi di atas rata – rata? Ada 3 ciri – ciri penting nih:

  1. Business modelnya solid dan prospektif
  2. Management & owner-nya kredibel
  3. Laporan keuangan historisnya sangat baik dan bertumbuh

Tiga ciri – ciri perusahaan istimewa di atas di atas harus terpenuhi sebelum Anda memulai investasi saham (ingat, investasi beda dengan trading saham ya), dan dengan memilih saham tersebut, investasi saham Anda, baik dengan strategi lump sum investing maupun dollar cost average (DCA) atau yang sering dikenal dengan strategi nabung saham bisa memberikan hasil yang luar biasa tingginya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bottom Reversal”]

Perubahan sebuah tren dari tren turun menjadi tren naik. Jika bottom reversal dapat diidentifikasi, potensi keuntungan trader maupun investor akan lebih optimal karena berkesempatan membeli di awal fase bullish dan keuntungan lebih maksimal jika dalam meyimpan saham ini sepanjang fase rally-nya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bullish”]

Sebuah kondisi dimana harga bergerak naik ke atas (uptrend), dianalogikan dengan tanduk banteng (bull) yang naik ke atas.

Fokus GaleriSaham adalah menemukan dan merekomendasikan saham yang berpotensi uptrend (bullish) menggunakan konnsep TREND OPTIMIZER.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bursa Efek”]

Bursa efek adalah seperti pasar tradisional. Ada banyak brand penjual dan beragam pembeli di dalamnya. Jadi, bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak – pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka.

Setiap perusahaan yang sudah melakukan proses initial public offering (IPO) maka secara resmi sudah membuka diri untuk publik. Istilahnya: Go Public.

Dengan Go Public, semua hal berkaitan dengan perusahaan tersebut bisa diakses oleh semua orang, termasuk laporan keuangan, jadwal RUPS, keputusan RUPS, paparan publik atas rencana bisnis perusahaan, hingga harga saham-nya. Dengan Go Public, semua orang bisa membeli maupun menjual saham perusahaan yang tercatat (emiten) dimana wadahnya ada di bursa efek Indonesia.

Contoh lebih jelas bagaimana?

Analogi

Ketika sebuah lahan XYZ yang dimiliki & dikuasai perusahaan developer properti. Maka tidak ada yang bisa beli, kita tidak tahu harga pasarannya, dan kita tidak bisa memperjual belikan tanahnya karena milik sebuah perusahaan. Artinya, informasi seputar area tanah tersebut sangat tertutup.

Namun ketika lahan XYZ telah dimulai penjualannya, maka setiap orang bisa membeli lahan sebanyak yang mereka mau sesuai kemampuan keuangan mereka. Kita sudah bisa mengetahui harga per meter tanahnya, dan setelah membeli tahah, kita juga bisa menjualnya kembali ke orang lain apalagi jika area tanah yang dijual sudah habis. Disinilah timbul transaksi jual beli tanah, rumah, apartemen, dan sebagainya.

Sama seperti saham sebuah perusahaan go public. Jika sudah go public, maka saham bisa diperdagangkan sebagaimana kita memperdagangkan properti kita, dimana bursa efek adalah pasar tempat bertransaksinya.

Bedanya apa?

Bedanya, jika di properti kita bisa bertransaksi tanpa perantara / broker, langsung ke pemilik. Di pasar saham semua wajib melalui jasa perantara / broker saham. Ini menyebabkan harga saham begitu efisien dan bisa kita ketahui setiap saat.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Buy Back”]

Pembelian kembali saham – saham yang telah beredar di publik oleh emiten yang menerbitkan saham tersebut.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Buy on Weakness”]

Umumnya disingkat dengan BOW. Aktivitas membeli sebuah saham ketika harga melemah. Biasannya buy on weakness  dilakukan ketika harga bergerak turun cukup signifikan dalam waktu singkat, atau jika sebuah saham sudah turun cukup panjang.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Capital Gain”]

Keuntungan yang diperoleh karena perbedaan antara harga beli dan harga jual suatu efek. Apabila perbedaan tersebut bersifat negatif, maka dicebut capital loss. Jika saham tersebut tidak dijual, maka capital gain bersifat: UNREALIZED CAPITAL GAIN. Jika Saham tersebut telah dijual, maka bersifat: REALIZED CAPITAL GAIN. Jadi, capital gain itu tidak harus selalu direalisasi.

Jenis income ini adalah: 1) Active income jika aktif bertransaksi jual beli. 2) Portfolio income jika tidak direalisasi dalam jangka panjang. (Passive income datang dari: dividen)

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menabung Saham”]

Setelah rekening saham Anda aktif, ada beberapa step yang harus dilakukan untuk menjalani nabung saham dengan efektif:

  1. Anda harus I.N.G.A.T bahwa harga saham berfluktuatif dalam jangka pendek, namun selama performa perusahaannya bagus, dalam jangka panjang cenderung akan bertumbuh (lihat poin nomor 5 di bawah). Anda harus tetap disiplin terlepas harga pasar naik ataupun turun. Ini kuncinya ya.
  2. Tentukan dahulu, anda akan menyisihkan berapa % dari income bulanan Anda. Minimal 10%. Idealnya 20 – 30% seperti Anda sedang mencicil properti.
  3. Pastikan, ketika income Anda naik, persentase penyisihannya tetap sama (misalnya 20% dari income), dengan demikian Anda akan membeli saham lebih banyak dari waktu ke waktu
  4. Tentukan tanggal tetap Anda akan membeli sahamnya, apakah tanggal gajian Anda, atau tanggal berapapun. Pastikan beli hanya di tanggal tersebut.
  5. Pastikan nabung saham perusahaan yang: a) Laporan keuangannya selalu positif, mencetak laba dalam (minimal) 5 tahun terakhir, b) selalu mengalami pertumbuhan laba yang konsisten dari waktu ke waktu, c) market leader di industrinya.
  6. Idealnya, tabunglah saham yang rutin membagikan deviden. Jadi Anda tidak perlu menjual saham Anda untuk menikmati hasil investasi Anda yang terus berkembang.
  7. Cek harga pasar sahamnya sekarang. Pembelian saham minimal adalah 1 lot (100 lembar saham) dan berlaku kelipatannya. Jika harga pasar sahamnya di Rp. 17.000,- maka minimal pembelian adalah Rp. 17.000,- X 100 lembar = Rp. 1.700.000,-. Jika jumlah yang ingin Anda tabung per bulan adalah Rp. 1.000.000,-, maka membeli saham tersebut tidak memungkinkan. Anda bisa perbesar alokasi bulanan Anda untuk dapat membeli saham tersebut, atau pilih saham lain yang sesuai dengan kriteria poin nomot 5 di atas.
  8. Belilah saham yang sama dengan konsisten. Jangan diganti – ganti.
  9. Lakukan dengan disiplin, baik ketika market naik, maupun turun.

Jika hal ini dijalankan dengan konsisten, seiring dengan kenaikan pendapatan, nabung saham Anda juga meningkat, harga saham bertumbuh, Anda akan mendapatkan pertumbuhan aset yang luar biasa.

Eits, jangan lupa, ini belum termasuk deviden yang dibagikan per tahun kalau perusahaannya rutin membagikan deviden lho.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cum Date”]

Tanggal dimana, jika investor masih memegang aset / saham akan berhak diikutsertakan dalam corporate action perusahaan bersangkutan. Misalnya Cum date untuk pembagian deviden (cum deviden) adalah 1 Januari, maka semua pemegang saham yang memiliki saham tersebut hingga penutupan bursa di 1 Januari, akan mendapatkan deviden sesuai dengan penjadwalan dari emiten.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dead Cat Bounce”]

Kembali bersabar, dan menjadi penonton yang bijak.

Ketika harga turun terus (bearish), minat beli semakin tinggi (apalagi posisi yang dimiliki adalah FULL CASH), semakin harga bergerak turun, semakin saham – saham yang dipantaunya menarik. Siapapun setuju akan hal ini. Bagaikan kita membawa koper penuh uang ke dalam mall penuh diskon. Siapa yang tidak tergoda?

Ini ibarat kita bersiap – siap dalam posisi start pada perlombaan lari. Kita bersedia dan bersiap – siap, memacu diri ketika pistol start dibunyikan. DORR! Semua berlari.

DORR! itu bisa macam – macam:
1) Harga komoditas yang naik
2) Berita yang positif
3) Broker asing beli
4) Global market yang melonjak
5) Ajakan dalam hati: Kapan lagi kalau ga sekarang.

Apakah penurunan ini merupakan sesuatu yang buruk? Tergantung.

Jawaban: ‘Tergantung’ mungkin terdengar terlalu diplomatis, tapi ini alasannya:
1) Jika kita disiplin menjalankan trading plan yang berbasis trend optimizer, maka saham turun kita tidak punya. Penurunan adalah peluang.
2) Jika kita suka menampung harga turun, buy on weakness, maka penurunan adalah bencana. Baca: Sisi gelap average down.

Kita harus objektif dan berkepala dingin dalam menghadapi pasar seperti ini. Jangan sampai cash terlanjur habis dibelikan saham yang dirasa (dirasa, feeling, perasaan, dll) sudah murah.

Hati – hati dengan DEAD CAT BOUNCE

Sesuai dengan istilahnya, dead cat bounce adalah istilah yang dipopulerkan untuk menggambarkan ‘kenaikan sementara dalam tren turun’. Bahasa teknisnya adalah: technical rebound.

Jangan karena rebound 1 hari menjadikan kita panik beli, panik belanja, dan akhirnya cash habis, padahal trend masih negatif. Adalah wajar, turun 5 hari lalu rebound 1 hari, seperti wajarnya harga naik 5 hari turun 1 hari. Sikapi dengan kepala dingin. Ini bisa dilakukan jika Anda menguasai metode yang Anda gunakan.

Jangan sampai panik belanja, naik sedikit dijual, turun banyak di hold. Akhirnya portfolio bagaikan zombie. Ada, tapi tiada harapan.

Ada 2 opsi yang menurut kami layak Anda pertimbangkan. Pastikan Anda mengetahui motif Anda dengan jelas, Anda trader? Atau Anda investor? Jangan jadi bunglon.

Bagi trader, saham yang break support tren-nya wajib dijual. Karena Anda membeli saham untuk nantinya bergerak naik bisa dijual untung. Tidak ingin kan beli saham demi rugi, yang dibeli yang turun – turun semua? Trader wajib cutloss, dan saat ini hanya memiliki cash. Kelebihan Trader itu adalah: memiliki 3 sisi mata uang. Kalau fundamental hanya 2 sisi mata uang. Simak pembahasannya disini: 3 Sisi Mata Uang. Manfaatkan kelebihan Anda sebagai trader, terutama yang fokus pada trend optimizing method.

Bagi investor, ini kesempatan emas, mengoleksi saham yang berfundamental baik, keuangannya terus tumbuh, business modelnya solid, membagikan deviden secara rutin, dan sedang undervalue. 

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dilusi Saham”]

Dilusi saham adalah penurunan persentase kepemilikan saham karena adanya penambahan modal namun pemegang saham lama tidak berpartisipasi. Biasanya ini terjadi akibat adanya sebuah corporate action yang menjadikan pemegang saham lama ‘terdepak’, kehilangan suara dan tidak bisa mengendalikan perusahaan seperti sediakala.

Misalnya seorang investor punya saham 30%, maka hak votingnya juga 30%. Dengan corporate action bisa membuat suaranya turun menjadi 19%. (cek simulasinya di bawah)

Nah dilusi dapat terjadi jika perusahaan melakukan right issue atau private placement. Yuk kita lihat contoh dibawah ini.

PT. Dilusi Investama memiliki 1000 lembar saham yang terdiri dari 3 pemegang saham :

  • Alex : 400 lembar (40%)
  • Brian : 300 lembar (30%)
  • Anita : 300 lembar (30%)

 

PART 1: DILUSI AKIBAT RIGHT ISSUE

Karena persaingan yang semakin tinggi, pemegang saham sepakat untuk menambah jumlah cabang lebih cepat daripada kompetitor. Oleh karena kebutuhan untuk ekspansi ini, perusahaan butuh menambah 60% modal baru. Kesepakatan ini bisa dicapai dari persetujuan :

  • Alex + Brian saja (70% suara), atau
  • Alex + Anita saja (70% suara), atau
  • Brian + Anita saja (60% suara), atau
  • Alex + Brian + Anita (100% suara)

Menambah modal 60% berarti lembar saham pun akan bertambah 60%, yaitu 60% x 1000 lembar lama = 600 lembar saham baru. Dengan demikain, masing – masing pemegang saham lama memilki jatah menyetor modal proporsional (HMETD / Right) seperti di bawah ini:

  • Alex : 240 lembar (40%)
  • Brian : 180 lembar (30%)
  • Anita : 180 lembar (30%)

Mereka harus setor modal tambahan sesuai proporsi. Misalnya nilai per lembar saham adalah 1 juta, maka (sebagai contoh) Brian harus menyediakan dana 180 x Rp. 1.000.000,- = Rp. 180.000.000,-

Misalnya Brian tidak punya dana tunai, maka dia tidak bisa setor modal baru. Dan yang mengambil alih tambahan modal Brian adalah Alex, karena Anita pun hanya memiliki dana terbatas. Maka lembar saham baru akan dibagikan dengan porsi berikut :

  • Alex : 240 + 180 lembar
  • Brian : 0 lembar (180 lembar diambil alih Alex)
  • Anita : 180 lembar

Setelah penambahan modal baru, maka total lembar saham PT Dilusi Investama menjadi 1.600 lembar dengan komposisi baru adalah :

  • Alex : 400 + 240 + 180 = 820 lembar
  • Brian : 300 + 0 = 300 lembar
  • Anita : 300 + 180 = 480 lembar

Hak suara baru pun berubah menjadi:

  • Alex : 820 / 1600 lembar = 51%
  • Brian : 300 / 1600 lembar = 19%
  • Anita : 480 / 1600 lembar = 30%

Dengan hasil diatas, maka Brian terdilusi kepemilikannya dari 30% menjadi 19%. Alex meningkat porsi kepemilikannya dari 40% menjadi 51% karena dia menyetor tambahan lebih banyak dari yang lain. Sedangkan Anita memiliki proporsi yang sama seperti sebelumnya.

Dalam hal ini, Alex sekarang ‘menguasai’ perusahaan karena memiliki suara terbanyak (>50%). Brian dan Anita tidak bisa mengendalikan perusahaan walaupun mereka ‘satu suara’. Mengapa?

Dulu, gabungan suara Brian (30%) + Anita (30%) bisa mendominasi keputusan perusahaan (60%). Tapi sekarang, gabungan saham mereka hanya 49% (19% + 30%), kurang dari 50%

Jadi dalam setiap RUPS, maka keputusan Alex adalah keputusan mutlak.

 

PART 2: DILUSI AKIBAT PRIVATE PLACEMENT

Setelah right issue, diasumsikan PT Dilusi Investama berhasil berkembang dengan baik bisnisnya. Suatu ketika ada kebutuhan ekspansi kembali, kali ini ekspansi ke luar negeri. Dengan segala kebutuhan, perusahaan ini butuh penambahan modal sebanyak 25% ekuivalen 400 lembar (400/1600 = 25% saham baru). Nah, partner Alex, anggap namanya Grace, mampu menyediakan dana untuk kebutuhan modal baru. Alex bisa saja melakukan private placement : Menerbitkan saham baru untuk diserap oleh pemegang saham baru (Grace). Ingat, Grace bukanlah pemegang saham lama.

Private placement tetap memerlukan RUPS dan kesepakatan antar pemegang saham. Namun hak suara Brian dan Anita jika ingin menolak private placement tidak akan berhasil karena kurang dari 50% suara (hanya 49% saja). Jadi Alex secara struktur bisa memutuskan kebijakan Private Placement kepada Grace.

Dengan demikian lembar saham yang ada akan menjadi : 1600 (lama) + 400 (baru, Grace) = 2000 dengan komposisi kepemilikan saham menjadi :

  • Alex : 820 lembar (sama seperti dulu)
  • Brian : 300 lembar (sama seperti dulu)
  • Anita : 480 lembar (sama seperti dulu)
  • Grace : 400 lembar (Pendatang baru)

Hak suara para pemegang saham setelah private placement menjadi :

  • Alex : 820 / 2000 = 41% (turun dari 51%)
  • Brian : 300 / 2000 = 15% (turun dari 19%)
  • Anita : 480 / 2000 = 24% (turun dari 30%)
  • Grace : 400 / 2000 = 20%

Dari data di atas, maka Private Placement mengakibatkan terjadinya dilusi saham Alex, Brian, dan Anita.

Coba bayangkan, karena Alex dan Grace adalah partner, maka kombinasi suara mereka adalah 41% + 20% = 62%, maka ‘Alex & the gang’ semakin mendominasi perusahaan. Sebaliknya, Brian semakin kehilangan kendali di perusahaan, demikian pula dengan Anita.

Nah, coba kamu bayangkan kalau private placement bukan hanya sekedar 400 lembar (25%), namun 1600 lembar (100%) baru. Seberapa besar dilusi yang terjadi?

Apakah baik untuk bisnis perusahaan?
Apakah Baik untuk pemegang saham lama?

Semua itu relatif bukan?

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden”]

Dividen adalah bagian dari laba atau pendapatan perusahaan yang ditetapkan oleh direksi (dan disahkan oleh RUPS) untuk dibagikan kepada pemegang saham. Pembayarannya diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada jenis saham yang ada.

 

Karena deviden adalah pembagian laba bersih, maka umumnya deviden dibagikan 1x dalam 1 tahun. Namun tetap bisa beberapa kali (dividen interim), tergantung kebijakan perusahaan.

Anda tidak perlu menjual saham untuk mendapatkan dividen. Jenis income ini: passive income. Deviden merupakan satu – satunya jenis keuntungan dari saham yang memiliki sifat: passive income. Cukup memiliki sahamnya, maka setiap ada pembagian keuntungan, investor akan menerimanya secara otomatis.

Passive income rate dari investasi saham sering disebut dengan Dividend Yield

CONTOH:

PT GLSM harga pasarnya saat ini di 800. memperoleh laba per saham (EPS) sebesar Rp.150,-. Kebijakan perusahaan adalah membagikan deviden minimal 40% dari laba bersih. Maka dari itu:

  • Dividend Payout Ratio (DPR)-nya adalah = 40%
  • Dividend per Share = DPR x EPS = 40% x Rp. 150,- = RP.60,-
  • Dividend Yield = DPR / Market Price = Rp.60,- / Rp. 1.500,- = 8%

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menghitung Deviden Saham”]

Deviden adalah bagian laba atau pendapatan perusahaan yang ditetapkan oleh direksi (dan disahkan oleh RUPS) untuk dibagikan kepada pemegang saham. Pembayarannya diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada jenis saham yang ada.

Untuk menghitung deviden saham, ada beberapa data yang harus Anda ketahui antara lain:

  1. Laba bersih perusahaan ataupun laba bersih per saham (EPS)
  2. Dividend Payout Ratio (DPR)
  3. Jumlah saham beredar / outstanding shares

CONTOH:

Sebuah perusahaan (PT GLSM) memiliki 1.000.000 lembar saham mencetak keuntungan bersih sebesar Rp. 150.375.000,- (lihat contoh laporan keuangannya disini: Analisa Laporan Keuangan Perusahaan). Kebijakan pembagian deviden perusahaam (DPR) adalah 40% dari laba bersih dibagikan sebagai deviden. Dengan demikian kita bisa menghitung deviden sebagai berikut:

  1. Deviden = Laba bersih x DPR = Rp. 150.375.000,- x 40% =  Rp. 60.150.000,-
  2. Deviden per saham = Deviden / saham beredar = Rp. 60.150.000,- / 1.000.000 = Rp. 60,15 per lembar saham

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden Payout Ratio”]

Apa itu Dividend Payout Ratio?

Tidak semua laba dibagikan kepada para pemegang saham. Ada persentase tertentu dari laba perusahaan yang dibayarkan sebagai deviden kas kepada pemegang saham dan itu sesuai dengan kebijakan manajemen dalam RUPS.

Misalnya sebuah perusahaan laba bersihnya Rp. 150.375.000,-. Dari laba tersebut, dibagikan 40% kepada pemegang saham berupa deviden tentunya. Nah, 40% ini adalah yang disebut sebagai Dividend Payout Ratio.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden Yield”]

Apa itu Dividend Yield?

Dividend yield adalah jumlah deviden saham tahunan dari suatu perusahaan yang dinyatakan dalam persentase dari harga pasar terakhir dari saham perusahaan tersebut. Dividend yield yang tinggi menunjukkan ada potensi passive income yang menarik dari saham yang dimiliki oleh investor.

Cara menghitunng dividend yield adalah membagi nominal deviden per lembar saham dengan harga Anda beli saham.

Misalnya sebuah perusahaan (PT GLSM) memiliki data sebagai berikut:

  • Deviden per lembar saham = Rp. 60,-
  • Harga beli Anda di Rp. 1.500,-

Dengan demikian, rumus menghitung dividend yield adalah Rp.60,- / Rp.1.500,- = 4%. Tinggi atau rendah? Ini tergantung cost of fund Anda.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dividen Interim”]

Kita tahu bahwa perusahaan yang manajemennya oke dan keuangannya sehat selalu membagikan deviden. Dividen (bahasa inggris: dividend) merupakan pembagian sebagiaan keuntungan tahun tertentu kepada para pemegang sahamnya. Artinya, jadwal bagi deviden pada umumnya adalah 1x setahun (baca: mengapa deviden itu sangat penting)

Namun ada kalanya perusahaan tidak membagikan deviden 1x setahun saja. Bisa jadi perusahaan membagikan deviden beberapa kali, namun tentunya jumlah deviden yang dibagikan tidak kebablasan dari Dividend Payout Ratio yang sudah ditetapkan manajemen ya.

Jadi bisa saja perusahaan membagikan deviden beberapa kali, misalnya 1x di bulan desember, dan 1x lagi setelah tutup buku di bulan April misalnya. yang penting, pembagian deviden tidak akan melampaui batas payout ratio per kinerja keuangan akhir tahun.

Misalnya begini: Perusahaan menetapkan kebijakan dividend payout ratio 40%, artinya dari earning per share (PT GLSM) RP. 150,-, dividen yang dibagikan ada di angka RP.60,-. Nah, misalnya di kuartal 3 (tentu belum penuh 1 tahun aktivitas bisnis ya), perusahaan sudah mengantongi laba dengan ekuivalen per lembar saham adalah RP.100,-. Maka boleh dong, perusahaan membagikan deviden sebelum menunggu tutup buku akhir tahun?

Jadi perhitungannya begini:

  • Deviden interim: 40% x RP.100,- = RP.40,- / lembar
  • Laba per lembar saham (Earning per share / EPS) tahun berjalan di Rp.150,-
  • Alokasi deviden 1 tahun = 40% x RP.150,- = RP.60,- / lembar
  • Deviden yang dibagikan setelah tutup buku tahun berjalan = 60 – 40 = Rp.20,- / lembar saham.

Masih banyak variasi dari deviden interim, kadang ada perusahaan yang sampai membagikan deviden 5x setahun. Jadi semuanya kembali ke kebijakan perusahaan ya. Demikian penjelasan mengenai Dividen Interim, semoga bermanfaat:)

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Downtrend”]

Kecenderungan pergerakan harga saham turun secara terus menerus.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menghitung Earning Per Share (EPS)”]

Bagi yang ingin memahami rumus earning per share, coba cek ulasan di bawah ini terlebih dahulu.

Laba bersih per saham atau yang sering kita sebut dengan earning per share adalah pembagian antara laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan di periode tertentu dengan jumlah saham yang beredar (outstanding shares).

Hal ini dilakukan untuk menstandarisasi satuan antara laba bersih perusahaan dengan lembar saham yang diterbitkan. Ini juga untuk mempermudah para pemegang saham berapa keuntungan dari setiap lembar saham yang mereka punya. Karena setiap pemegang saham tidak sama jumlah kepemilikannya (lembar sahamnya).

Misalnya Danny yang memiliki 1000 lembar saham, dan Grace yang memiliki 1232 lembar saham. Bagaimana cara mengetahui berapa keuntungan per lembar saham yang dimiliki masing – masing? Semua harus dibagi sesuai lembar saham yang ada di perusahaan tersebut.

Kita perlu kalkulasi secara apple to apple (atau samsung to samsung #ehh): jika bandingkan harga, harus dengan laba bersih per saham. Jika membantingkan laba bersih total, harus dengan kapitalisasi pasar.

Cara menghitung Earning Per Share adalah sebagai berikut:

  • Laba perusahaan adalah Rp. 150.375.000,-
  • Jumlah lembar saham perusahaan adalah 1.000.000 lembar
  • Maka, laba bersih per saham adalah Rp. 150.375.000,- / 1.000.000 lembar = Rp. 150 / lembar saham (ini sering disebut juga dengan EPS atau earning per share.

Dari sinilah, Danny dan Grace bisa menghitung berapa porsi laba atas kepemilikan saham perusahaan mereka masing – masing bukan?

Dan jika ini adalah perusahaan terbuka yang tercatat di bursa efek, maka kita bisa lebih mudah membandingkan antara laba dengan harga (Price Earning Ratio), Deviden dengan laba (Dividend Payout Ratio), dengan yang lain – lainnya.

Ingat, laba bersih bukan apa yang akan diterima oleh pemegang saham ya. Yang akan diterima pemegang saham adalah Deviden.

Semoga bermanfaat!

[/accordion-item]

[/accordion]

[/col]
[col span=”3″ span__sm=”12″]

[accordion]

[accordion-item title=”Efek”]

Surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, sahamobligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek. Perusahaan yang menerbitkan salah satu dari surat berharga di atas disebut sebagai emiten.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Emiten”]

Emiten (dalam hal ini di pasar saham) adalah perusahaan yang menawarkan saham-nya kepada masyarakat investor melalui penawaran umum. Jadi, emiten adalah perusahaan – perusahaan yang sahamnya ditawarkan dan diperdagangkan di bursa efek Indonesia.

Contoh sederhananya:

Jika sebuah perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi berupa penambahan modal baru, maka perusahaan tersebut melakukan penawaran saham melalui kegiatan initial public offering (IPO) untuk dijual di bursa efek Indonesia.

Setiap emiten akan memiliki akhiran ‘Tbk’ di belakan nama perusahaannya. Contoh: PT. Bank Central Asia Tbk, atau PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. 

Jika ada perusahaan yang bernama seperti ini: PT. Indonesia Asahan Aluminium (inalum), tidak ada akhirnya Tbk, maka perusahaan ini belum IPO (per tahun 2020) dan saham-nya tidak bisa diperdagangkan.

Emiten – emiten ini memiliki kode saham perusahaan masing – masing di pasar modal untuk lebih memudahkan investor dalam bertransaksi saham.

Contohnya:

  • PT. Bank Central Asia Tbk memiliki kode perusahaan: BBCA.
  • PT. Telekomunikasi Indoneisa Tbk memiliki  kode: TLKM.
  • PT Indonesia Asahan Aluminium (inalum) tidak memiliki kode saham karena belum IPO / Go Public.

Simak ciri – ciri kode saham disini.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Ex Date”]

Satu hari setelah cum date. Tanggal dimana, jika investor sudah tidak memegang aset / saham (sudah menjual) akan tetap berhak diikutsertakan dalam corporate action perusahaan bersangkutan. Misalnya Ex date untuk pembagian deviden (Ex deviden) adalah 2 Januari, maka jika pada tanggal tersebut investor menjual sahamnya, tetap akan mendapatkan deviden sesuai dengan penjadwalan dari emiten.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Free Float Saham”]

Apa itu free float saham? Sederhananya, Free Float adalah jumlah lembar saham minoritas yang beredar dan dapat ditransaksikan di pasar reguler.

Sebelum berbicara lebih lanjut, mari kita pahami dulu konsep dasar kepemilikan saham yang berlaku di pasaran.

Misalnya sebuah perusahaan dengan kode saham FRFL dikatakan ekuitasnya adalah Rp. 5.000.000.000,- dengan jumlah lembar saham sebanyak 1.000.000 lembar. Jika pemilik mayoritas adalah Bryan dengan nilai ekuitas Rp. 2.500.000.000,-, maka bisa dipastikan bahwa Bryan memiliki kepemilikan saham sebesar (Rp. 2.500.000.000,- / Rp. 5.000.000.000,-) = 50%. Tentunya Bryan juga memiliki 50% lembar saham sebanyak 500.000 lembar ya. Bryan adalah investor mayoritas perusahaan tersebut. Nah, jangan mikir Bryan trading harian sahamnya yah. Dia tentunya hanya menyimpan sahamnya, menjaga operasional perusahaan terus meningkat, dan menikmati hasil keuntungan dari deviden tahunan.

Nah, ada juga Grace yang merupakan partner bisnis, yang mendirikan perusahaan bersama dengan Bryan, ia memiliki 200.000 lembar saham perusahaan FRFL . Nah, dari total 1.000.000 lembar, kepemilikan Grace tentunya sebesar 200.000 / 1.000.000 = 20% kepemilikan. Apakah Grace trading saham FRFL setiap hari? Ingat, berpikir dari sudut pandang investor, bukan trader, apalagi spekulan. Grace tentu akan memastikan operasional perusahaan berjalan lancar, dan ia menikmati keuntungan dari pembagian laba perusahaan. Apa itu? Deviden.

Ada juga James. Ia ternyata memiliki 20,1% kepemilikan di perusahaan tersebut. Artinya, James memiliki 20.1% x 1.000.000 lembar = 201.000 lembar saham. Dalam hal ini, sama seperti Bryan dan Grace, James mengharapkan perusahaan tumbuh berkembang dan menikmati deviden tahunan.

Apakah James akan trading saham? Eits, dia investor lho. dan jika dia trading saham, dia jual sahamnya 5.000 lembar saja, maka kepemilikan James di perusahaan tersebut akan dibawah Grace, dan dia akan kalah power daripada Grace. Jadi kebayang yah, investor mayoritas / pengendali cenderung ga akan tradingin saham perusahaan miliknya.

Nah, investor fokus pada deviden. Apa yang Anda fokuskan dalam bertransaksi saham? Apakah Anda memiliki mindset selayaknya seorang investor? Apakah Anda siap menjadi investor? Jika belum, Anda tetap bisa fokus di sumber lain: 

Oke, lanjut ya…

Jadi dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa pemilik mayoritas perusahaan FRFL adalah:

  1. Bryan: 50% ownership
  2. James: 20.1% ownership
  3. Grace: 20% ownership.

Sisanya siapa? ada sisa (100% – 50% – 20.1% – 20%) = 9.9%. Ini adalah jumlah saham yang dimiliki oleh pihak lain (minoritas), dalam hal ini bisa perorangan, institusi, lokal, maupun asing. Nah, sesuai ketentuan, jika kepemilikan di bawah 5% maka tidak dianggap sebagai majority shareholder. Dan atas dasar ini pula, jumlah saham yang kepemilikannya dibawah 5%, dijumlahkan, dan dianggap sebagai free float: lembar saham yang dimiliki oleh pihak minoritas yang dianggap bisa aktif ditransaksikan di pasar. Dengan kata lain, pasar hanya bisa bertransaksi di 9.9% saham yang ada.

Jika ada 2 perusahaan, yang satu free floatnya 9.9%, yang satu lagi free float 20%, mana yang kira – kira pergerakan harganya lebih mencerminkan aktivitas pasar? Tentu yang free floatnya 20% bukan? Semakin tinggi free float, semakin dapat dianggap pergerakan harga saham tersebut merupakan cermin aktivitas pasar.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Full Time Trader”]

Banyak orang yang tergiur dengan istilah: trading for a living. Bisa resign dari pekerjaan, menutup toko yang merugi, dan mendapatkan yang dari transaksi saham. Tidak perlu bermacet – macetan di jalanan, tidak ada bos, tidak ada customer yang gila nawar, dll.

Tapi apakah trading for a living adalah pilihan untuk semua orang? Tidak. Ada beberapa hal yang perlu Anda penuhi terlebih dahulu sebelum trading for a living.

Ketika Anda mendengar istilah trading for a living, maka seperti kata penyusunnya: Trading = bertransaksi (dalam hal ini adalah: saham), for a living = Untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Anda memenuhi kebutuhan hidup dari trading saham. Keuntungan demi keuntungan dikumpulkan untuk mencukupi biaya bulanan bahkan biaya tahunan Anda. Disini Anda harus menghitung dulu, berapa biaya bulanan Anda.

Misalnya, Anda saat ini sebagai karyawan, gajinya Rp. 20.000.000,- / bulan. Maka, Anda harus mendapatkan nett profit dari trading saham sebesar itu bukan?

Berapa modal Anda?

  1. Jika modal Anda Rp. 100.000.000,-, maka Rp. 20.000.000,- didapatkan dengan keuntungan 20% per bulan! (ekuivalen 240% per tahun)
  2. Jika modal Anda Rp. 400.000.000,-, maka Rp. 20.000.000,- didapatkan dengan keuntungan 5% per bulan! (ekuivalen 60% per tahun)
  3. Jika modal Anda Rp. 1.000.000.000,-, maka Rp. 20.000.000,- didapatkan dengan keuntungan 2% per bulan! (ekuivalen 24% per tahun)
  4. Jika Modal Anda Rp. 2.000.000.000,-, maka Rp. 20.000.000,- didapatkan dengan keuntungan 1% per bulan! (ekuivalen 12% per tahun)

Apakah Anda sudah menghitung biaya hidup Anda dan modal yang Anda miliki untuk trading for a living? Bisa dilihat dimana semakin besar modal Anda, semakin mudah meraih target profit Anda. Dengan satu syarat: Pasar bergerak stabil setiap bulannya.

Apa jadinya jika dalam 1 tahun (12 bulan), pasar terkoreksi di bulan Maret s/d Mei, dan terkoreksi di bulan Agustus s/d Oktober? Apakah Anda bisa mencapai target kebutuhan dana bulanan Anda? Ini yang harus dipertimbangkan jika Anda menargetkan return dengan jumlah FIX setiap bulannya.

Akan lebih realistis jika Anda menghitung kebutuhan hidup tahunan Anda dan profit yang Anda kumpulkan Anda jadikan modal hidup Anda untuk tahun mendatang, bukan tahun sekarang.

Contohnya: Jika Anda tahun depan merencanakan menjadi full time trader, maka mulai 12 bulan sebelumnya, Anda sudah melakukan transaksi dengan modal tertentu, dan profitnya bisa Anda cairkan untuk menjadi modal hidup Anda tahun berikutnya. Tentunya profit setahun Anda dialokasikan untuk 12 bulan ya, bukan dihabiskan.

Misalnya, Anda tahun ini Anda mendapat profit Rp. 240.000.000,-. Maka jumlah itu cukup untuk biaya bulanan Anda tahun depan, dan tahun depan Anda mengumpulkan profit untuk tahun depannya lagi, bukan bulan berjalan. Disini, Anda akan tersingkatkan psikologis harus profit setiap saat karena Anda sudah mengerti kalau pasar itu berfluktuasi.

Jika Anda tahun ini mendapat profit Rp. 400.000.000,-, maka Anda bisa punya pundi – pundi untuk 20 bulan (bukan 12 bulan) kedepan untuk biaya hidup Anda. Dan di tahun depan, Anda bisa mengumpulkan profit dengan lebih santai. Jika pasar di tahun depan tidak terlalu bagus, dan profit Anda meleset, maka ada tabungan lebih dari profit di tahun sebelumnya.

Bagaimana jika tahun ini profit Anda hanya Rp. 100.000.000,-? Maka Anda tidak akan siap menjadikan trading for a living, karena performa Anda dibawah batas minimum Anda.

Disini Anda bisa lihat bahwa trading for a living itu penuh tantangan. Anda tidak bisa mendikte harga harus bergerak kemana. Anda hanya bisa mengumpulkan profit ketika pasar sedang bagus. Namun Anda juga berisiko menjual saham terlalu cepat karena terpancing memenuhi target profit bulanan Anda. Ada unsur ketidakpastian disini.

Jika Anda punya pilihan, sebaiknya tetap jalani aktivitas (pekerjaan) anda saat ini namun dengan tetap melakukan transaksi saham berbasis tren. Ketika ada tren naik baru Anda ikuti / ambil posisi. Jika tidak ada tren naik, Anda menjadi penonton saja.

Dengan demikian, anda punya sumber penghasilan lebih banyak, bukan dari gaji bulanan semata, namun dari transaksi saham Anda. Dan profit dari saham jangan digunakan untuk foya – foya, namun diinvestasikan di saham perusahaan yang rutin membagikan deviden untuk membentuk passive income Anda. Dari sana, ketika passive income sudah menyamai kebutuhan bulanan Anda, Anda bisa memilih menjadi full time trader tanpa beban apapun.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”GDP Adalah Apa?”]

Pada tahun 2020 ini, Indonesia dan banyak negara di dunia mengalami resesi. Resesi adalah kondisi dimana pertumbuhan sebuah negara dalam 2 kuartal berturut – turut adalah negatif. Jadi kalau hanya 1 kuartal, itu bukan resesi ya, hanya ‘kepleset’.

Lalu apa sih GDP itu?

Gross Domestic Product atau GDP merupakan pendapatan yang didapatkan baik dari barang ataupun jasa yang didapatkan dari masyarakat dalam negeri maupun luar negeri yang tinggal di satu negara. Misalkan ada orang asing yang bekerja, beli kopi di coffe shop, belanja di supermarket sampai sewa tempat tinggal di Indonesia, ini merupakan salah satu sumber pendapatan negara.

GDP = C+I+G+(X-m)

Mari kita ilustrasikan dibawah :

Coba bayangkan :

  • Berapa banyak penjualan cangkir kopi di semua coffe shop di seluruh Indonesia?
  • Berapa banyak penjualan mobil se Indonesia?
  • Seberapa menurunnya penjualan baju di Departement Store?

Nah semua ini dijumlahkan dan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka kamu akan mendapatkan pertumbuhan GDP.

C

Consumption merupakan kegiatan orang mengeluarkan uang untuk kegiatan konsumsi. Seperti seberapa banyak kamu belanja dalam setahun? Keluarga kamu, teman – teman kamu? Contohnya :

  • Belanja di supermarket
  • Ngopi di coffe shop
  • Belanja E-Commerce
  • Langganan streaming online
  • Liburan di dalam negeri
  • dll.

Artinya makin banyak yang belanja, maka makin tinggi tingkat consumption ( C ) = makin tinggi GDP.

I

Investment merupakan kegiatan investasi yang ada di satu negara tersebut seperti membangun pabrik, membuka bisnis, dll. Apakah kamu pengusaha? Banyak temen yang buka bisnis? Atau mungkin ada kenalan dari luar negeri yang membuka cabangnya di Indonesia?

Nah semakin banyak Investasi ( I ) dalam bisnis otomatis akan meningkatkan GDP dan secara ga langsung juga akan meningkatkan Konsumsi ( C ) masyarakat.

Investment ( I ) meningkat, Maka GDP akan meningkat.

G

Goverment Spending merupakan kegiatan belanja pemerintah. Selain kamu belanja ( C ) Pemerintah pun juga belanja ( G ) lho. Misalnya :

  • Beli komputer untuk kantor pemerintahan
  • Service mobil operasional di bengkel
  • Memberikan subsidi benih bagi para petani
  • Hingga membeli besi, baja, semen untuk membangun jalan tol.

Sama seperti point ( C ), semakin besar ( G ) maka akan semakin meningkatkan GDP.

X – m

Export – Import

Merupakan kegiatan export dan import di dalam sebuah negara. Yuk kita lihat lagi point C, I, dan G tadi :

  • Barang yang kita beli kebanyakan di import atau produksi lokal?
  • Barang yang dijual pengusaha (dan perusahaan) lebih banyak ke pasar lokal atau eksport?
  • Bahan baku pada proyek pemerintahan lebih banyak dari lokal atau import?

X > M bisa meningkatkan GDP dan mata uang akan cenderung menguat. Namun jika X < M ini menurunkan GDP dan mata uang akan cenderung melemah.

Jadi kesimpulan sederhananya adalah :

  • Makin tinggi tingkat konsumsi ( C ) masyarakat maka makin tinggi GDP. Jika makin rendah tingkat konsumsi masyarakat maka makin menurun GDP.
  • Makin tinggi tingkat Investasi sektor riil ( I ) maka semakin tinggi GDP. Makin rendah tingkat investasinya maka makin turun GDP.
  • Makin tinggi belanja (proyek) Pemerintah ( G ) maka makin tinggi GDP, jika makin rendah tingkat belanja pemerintah maka makin turun GDP
  • Jika Indonesia Net Eksport, maka makin tinggi GDP, Jika Indonesia Net Import, maka makin rendah GDP.

CIG vs X-m

Ini bagaikan pedang bermata dua.

Kalau kamu rajin minum susu, tapi bahan baku susu itu 80% impor, maka kamu meningkatkan ( C ) dan ( m ). GDP meningkat namun rupiah tertekan.

Kalau kamu pengusaha, produk kamu banyak dibeli orang dan diekspor ke luar negeri, maka ( C ) dan ( X ) meningkat. GDP naik dan mata uang menguat.

Kalau kamu beli baju batik import yang harganya sangat murah, kamu meningkatkan ( C ) dan ( m ) sekaligus ‘mematikan’ industri batik nasional ( I ).

Gimana jadi makin paham mengenai GDP kan?

Apa yang bisa kamu lakukan agar ekonomi Indonesia serta rupiah menguat dari waktu ke waktu?

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Go Public”]

Go Public adalah kegiatan sebuah emiten (perusahaan) untuk menjual saham-nya kepada investor publik, baik investor institusi maupun perorangan melalui proses initial public offering. Dengan melakukan hal ini (menjadi go public) maka perusahaan menjadi terbuka sahamnya untuk dibeli oleh masyarakat dan laporan keuangan pun akan terbuka untuk publik. Perusahaan yang sudah go public akan dicatatkan sahamnya di bursa efek, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Harga Pasar”]

Sejumlah nilai dalam mata uang rupiah yang terbentuk berdasarkan penjumpaan penawaran jual dan permintaan beli efek yang dilakukan oleh anggota bursa efek di bursa.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”HMETD”]

Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, hak yang melekat pada saham yang memungkinkan pemegang saham yang ada untuk membeli efek baru, termasuk saham, efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran, sebelum ditawarkan kepada pihak lain. Hak tersebut harus dapat dialihkan.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Apa Itu IHSG”]

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan yang ada di bursa efek Indonesia. IHSG berisi nilai kapitaliisasi dari setiap saham dari berbagai sektor industri yang ada di dalamnya.

Tujuan

Tujuan mengetahui IHSG adalah untuk mengukur kinerja pasar modal dari waktu ke waktu. Misalnnya jika pada tahun 2009 IHSG berada di level 1.100, dan di akhir tahun 2019 berada di level 6.300, maka bisa dikatakan bahwa rata – rata saham di bursa efek Indonesia mengalami kenaikan hingga 6x lipat dalam 10 tahun terakhir.

Rumus

Seperti yang kamu ketahui di modul Belajar Saham Pemula kami, perusahaan (emiten) yang terdaftar di bursa efek melalui proses IPO akan memiliki harga per lembar saham dimana jika mengalikan harga dengan total lembar saham kita akan dapatkan nilai perusahaan atau yang sering disebut dengan nilai kapitalisasi pasar.

IHSG menggunakan metode Market Capitalization Weighted Index. Artinya, IHSG menghitung total nilai kapitalisasi pasar seluruh saham beserta perubahaannya dengan rujukan nilai dasar pertama kali pada 10 Agustus 1982.

Rumus IHSG: (Total Nilai Kapitalisasi Pasar / Nilai Dasar) x 100

Misalnya total kapitalisasi pasar ada di level 5.000 triliun dimana nilai dasar ada di 400 triliun, maka indeks pada hari tersebut adalah sebesar 5.000 / 400 x 100 = 1.250.

Analogi

Bayangkan misalnya saham BBCA, BBRI, TLKM, UNVR, dan sebagainya adalah murid dari sebuah sekolah. Maka IHSG adalah nilai rata – rata kelulusan. Setiap murid berkontribusi atas sebuah nilai dan jika dirata — ratakan, maka didapatlah nilai rata – rata.

Demikian pula dengan IHSG. Untuk mendapatkan nilai IHSG, maka kita perlu merata – ratakan harga saham secara proporsional dengan jumlah lembar saham yang ada.

Interpretasi

Jika IHSG naik, lebih banyak harga saham yang naik daripada turun di hari itu.
Jika IHSG turun, lebih banyak harga saham yang turun daripada naik di hari itu.

Kesalahan Umum

Saham naik kalau IHSG naik.
Saham turun kalau IHSG turun.

Ingat ya, IHSG adalah rata – rata. Peringkat sebuah sekolah ditentukan nilai para murid, bukan terbalik: nilai murid ditentukan peringkat sekolah.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Initial Public Offering”]

Initial Public Offering (IPO) adalah kegiatan sebuah emiten (perusahaan) untuk menjual saham-nya kepada investor, baik investor institusi maupun perorangan melalui sebuah perusahaan sekuritas yang berperan sebagai penjamin emisi efek (investment banking) serta mencatatkan sahamnya di bursa efek.

Aktivitas ini menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan publik, dengan istilah kerennya: go public. Tujuan dari IPO ini adalah sebagai mekanisme mencari pendanaan bagi emiten tersebut untuk ekspansi bisnisnya.

Bingung? Ini contoh kasusnya:

Sebuah perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi bisnis, katakan untuk membangun pabrik baru. Daripada berhutang, perusahaan ini memilih menambah modal perusahaan tersebut. Namun mengingat pemegang sahamnya memiliki dana terbatas sedangkan kebutuhan dana lebih besar, maka perusahaan membutuhkan suntikan modal investor baru dari publik.

Misalnya kebutuhan dana adalah 20 miliar Rupiah. Modal perusahaan tersebut adalah 100 Miliar. Maka perusahaan tersebut menerbitkan saham baru sebanyak 20% dari modal awal. Penerbitan saham baru ini dilakukan dengan perantara perusahaan sekuritas yang memiliki lisensi sebagai penjamin emisi efek (istilah kerennya: investment banking). 20% saham baru tersebut ditawarkan oleh perusahaan sekuritas ke investor – investor di pasar modal, baik investor institusi maupun perorangan. Nantinya, saham perusahaan (emiten) tersebut akan tercatat di bursa efek dan mengikuti peraturan dari bursa efek setempat.

Pembeli saham perusahaan tersebut akan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pemilik saham awal dan memiliki suara terhadap perusahaan sesuai dengan proporsi saham perusahaan yang dimilikinya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Investasi”]

Kegiatan menempatkan dana atau modal pada sebuah intrumen (bisnis, proyek, properti, dan sebagainya) dengan ekspektasi mendapatkan keuntungan dalam periode tertentu dengan risiko tertentu.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Investasi Bodong Itu Apa?”]

Hati – hati, banyak sekali penipuan yang mengincar para investor saham maupun masyarakat umum. Penipuan demi penipuan terjadi setiap tahun dan semua korban selalu diiming – imingi return fantastis, potensi untung besar, dan investasi dijamin aman. Hati – hati ya, selalu ada korelasi terbalik antara risiko dengan return. 

Ada dua macam hubungan antara return dan risiko menurut GaleriSaham:

  1. Jika produk investasi umum dan wajar (terdaftar di OJK) : Semakin tinggi potensi return, akan semakin tinggi risikonya. Semakin rendah potensi return, semakin rendah risikonnya. Contohnya seperti ini:
    1. Deposito dijamin oleh LPS hingga nilai tertentu. Dengan demikian deposito adalah investasi yang aman & rendah risiko, namun return-nya di kisaran 4% (data tahun 2020)
    2. Peer-to-peer lending, salah satu produknya adalah utang dari perusahaan kepada investor. Jika pembayaran dari pihak ketiga tidak terpenuhi, tentu ada risiko utang tidak dapat dilunasi.
    3. Obligasi korporasi adalah investasi yang lebih tinggi risikonya daripada deposito. Return dari obligasi korporasi ada di kisaran 12 – 18% (data tahun 2020)
  2. Jika produk investasi menggiurkan (dan tidak terdaftar di OJK) memberikan return dalam rentang tidak normal (tidak masuk akal): Semakin tinggi return yang dijanjikan, semakin besar peluang itu adalah penipuan. Contohnya:
    1. Jika ada investasi yang katanya dapat memberikan return 8%, bukan per tahun tapi per bulan, bebas risiko pula. Maka risikonya sudah tidak bicara tinggi atau rendah lagi, namun sudah mengarah investasi bodong
    2. Jika ada program investasi yang memberikan return 4%, bukan per bulan tapi per minggu dan disebut bebas risiko, maka risikonya tidak bisa dihitung karena ini berisiko mengarah ke investasi bodong.
  3. Jika produk investasi umum dan wajar (NAMUN tidak terdaftar di OJK) maka secara legalitas perusahaan tersebut tidak memiliki kredibilitas dalam beroperasi di Indonesia. Bukan berarti produknya jelek lho, namun jika terjadi apa – apa, bagaimana penanganan lanjutannya bagi para konsumennya jika secara legalitasi tidak diurus? Istilahnya bagaimana cara kita bisa percaya sebuah PT tapi tidak ada ijin usahanya? Perusahaan yang legal saja bisa berakhir bodong, apalagi yang tidak legal / terdaftar resmi?

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Investor”]

Pihak (baik perorangan maupun institusi) yang menempatkan sejumlah dana di sebuah instrumen investasi dengan harapan mendapatkan keuntungan dengan kalkulasi risiko tertentu.

Fokus dari investor adalah bagaimana mendapat keuntungan, baik dari keuntungan menjual di harga / nilai yang lebih tinggi (capital gain) atau mendapat pembagian keuntungan jangka panjang secara berkala (deviden / bunga / kupon obligasi, dsb)

Jika menempatkan dana di instrumen yang bebas risiko / bebas fluktuasi, maka orang tersebut bukan seorang investor. Investasi mengandung unsur risiko dan keuntungan yang relatif tidak terbatas.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”January Effect Adalah”]

January effect adalah sentimen optimisme bahwa tahun baru membuka peluang baru dan semangat baru di pasar (ditandai dengan IHSG yang cenderung bergerak naik).

Biasanya fase January Effect itu berlangsung dalam 2 minggu pertama bulan Januari. Jika January Effect berlangsung sangat mantap, biasanya pasar cenderung akan melaju positif untuk kuarta pertama tahun bersangkutan. Biasanya rally awal tahun itu berakhir menjelang bulan Mei, yang dikenal dengan istilah: Sell on May and go away!

Melanjuti fase window dressing yang sudah positif, January Effect merupakan efek lanjutan dari window dressing tersebut. Ibaratnya, awal tahun fitness center rame kan? Sampe ngantri mau pake alat. Dan itu Januari doang. Sisanya, struggle, mau brangkat aja males.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”JATS”]

Jakarta Automated Trading System, system perdagangan efek yang berlaku di bursa untuk perdagangan yang dilakukan secara otomasi dengan menggunakan sarana komputer

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Jual Saham Online”]

Gimana Cara Jual Saham & Prosesnya

  1. Buka aplikasi online trading (OLT) yang disediakan broker saham kamu.
  2. Lakukan order jual saham.
  3. Setelah kamu menjual sahamnya, kamu akan dikonfirmasi oleh broker saham bahwa kamu telah laku menjual saham BBCA di harga Rp.11.500 sebanyak 10 Lot.
  4. Di akhir hari bursa, sekuritas akan mengirimkan Trade Confirmation.
  5. Sesuai dengan peraturan bursa, proses settlement transaksi jual beli saham itu adalah 2 hari kerja (T+2). Artinya, jika kamu beli jual saham di hari Senin, 24 Agustus 2015, maka settlement terjadi pada hari Rabu, 26 Agustus 2015.
  6. Settlement itu apa? Sederhananya, yang beli, dapat barang (saham) nya dan harus bayar uangnya. Yang jual dapat uangnya, kirim barangnya. Tenang, semua ini yang urus sekuritas via rekening saham kamu.
  7. Jadi pada hari Rabu, 27 Agustus 2015, uang di RDN kamu akan bertambah sebanyak Rp.11.500.000,- dan 10 lot saham BBCA kamu akan menghilang di portfolio.

Jadi kebayang ya, proses dari awal mula jual saham hingga proses settlement kamu dapet uangnya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Kapitalisasi Pasar Adalah”]

Kapitalisasi Pasar adalah harga total / nilai total dari sebuah objek, dalam hal ini adalah sebuah perusahaan. Jika perusahaan tersebut tercatat di bursa efek Indonesia, maka sangat mudah menilai kapitalisasi pasar.

Rumus

Nilai Kapitalisasi Pasar = Harga Pasar x Lembar Saham

Misalnya, saham BBRI harga di tahun 2015 di Rp. 1.600. Outstanding share-nya itu 122.112.351.900 lembar saham. Dengan data ini kita bisa hitung kapitalisasi pasar BBRI:

Kapitalisasi Pasar BBRI = 1.600/lembar x 122.112.351.900 lembar = RP. 195.379.763.040.000,-.

Banyak ya NOL-nya? Singkatnya, kapitalisasi BBRI itu Rp.195 Triliun. Kalau mau beli 100% perusahaan BBRI, ini duit yang harus kamu sediakan.

Jadi dengan mengalikan antara harga saham dengan lembar saham yang ada, maka kita bisa mengetahui berapa nilai kapitalisasi perusahaan tersebut. Atau sederhananya, berapa uang yang dibutuhkan untuk membeli 100% perusahaan tersebut.

Fungsi dari mengetahui kapitalisasi pasar adalah untuk dapat menghitung beberapa hal sebagai berikut:

  • Menghitung nilai dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), lihat penjelasannya disini.
  • Menghitung nilai / bobot sektor industri di dalam bursa efek Indonesia.
  • Menghitung nilai pasar sebuah perusahaan / emiten.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Kode Saham”]

Setiap emiten di bursa efek Indonesia memiliki kode khusus. Kode saham ini memiliki ciri – ciri antara lain:

  1. Setiap kode memiliki 4 huruf kapital.
  2. Kode saham umumnya mirip dengan nama perusahaannya. Misalnya:
    • PT. Bank Central Asia Tbk memiliki kode perusahaan: BBCA.
    • PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk memiliki kode: TLKM.
    • PT. Mayora Indah Tbk memiliki kode: MYOR.
  3. Ada juga kode saham yang tidak mirip dengan nama perusahaan, namun dengan nama produk utamanya. Contoh:
    • PT. Mulia Boga Raya Tbk, produsen keju merk Prochiz, kode sahamnya: KEJU.
    • PT. Graha Layar Prima Tbk, pemilik Blitz Megaplex yang kini berniama CGV Cinema, kode sahamnya: BLTZ.
    • PT. Era Mandiri Cemerlang Tbk, sebuah perusahaan perikanan, kode sahamnya: IKAN.
  4. Ada juga kode saham yang tidak ada hubungan sama sekali dengan nama perusahaan maupun produknya. Contohnya:
    • DOID, mewakili PT. Delta Dunia Makmur Tbk. Dahulu DOID adalah kode untuk perusahaan bernama PT. Daeyu Orchid Indonesia. Namun perusahaan ini dibeli keseluruhannya oleh PT Delta Dunia Makmur yang bisnisnya berbeda total sehingga namanya berubah menjadi PT Delta Dunia Makmur Tbk dengan kode saham tetap sama, DOID.
    • MYRX, mewakili PT. Hanson International Tbk. Dahulu MYRX adalah kode untuk perusahaan bernama PT Mayertex Tbk. Namun perusahaan ini dibeli keseluruhannya oleh PT. Hanson International Tbk yang bisnisnya berbeda total dengan kode saham tetap sama: MYRX
  5. Ada juga kode – kode lain seperti dengan awalan X seperti XICI dan sebagianya. Namun karena ini tidak terkait dengan sebuah emiten, maka tidak kami bahas disini ya.

Tujuan pengkodean saham ini antara lain:

  1. Menyederhanakan nama perusahaan di bursa efek Indonesia.
  2. Mempermudah investor& trader melakukan transaksi saham.
  3. Mempercepat proses transaksi di pasar.
  4. Pengolahan data lebih baik.

Mau tahu perusahaan apa saja yang ada di bursa efek indonesia dan apa saja kode – kodenya? Silahkan cek di https://www.idx.co.id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Kontrak Investasi Kolektif”]

Kontrak antara manajer investasi dan bank kustodian yang mengikat pemegang unit penyertaan dimana manajer investasi diberi wewenang untuk mengelola portfolio investasi kolektif dan bank kustodian diberikan wewenang untuk melaksanakan penitipan kolektif.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”KSEI”]

KSEI sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merupakan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian(LPP) di Pasar Modal Indonesia yang menyediakan layanan jasa Kustodian sentral dan penyelesaian transaksi Efek yang teratur, wajar, dan efisien, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Didirikan di Jakarta pada 23 Desember 1997 dan memperoleh izin usaha pada 11 November 1998, KSEI merupakan salah satu Self-Regulatory Organization (SRO) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). KSEI mulai menjalankan kegiatan operasional penyelesaian transaksi Efek dengan warkat pada tanggal 9 Januari 1998, mengambil alih fungsi sejenis dari PT Kliring Depositori Efek Indonesia (KDEI) sebagai Lembaga Kliring Penyimpanan dan Penyelesaian (LKPP).Tahun 2000, KSEI bersama SRO lainnya menerapkan transaksi perdagangan dan penyelesaian Efek tanpa warkat (scripless trading) di Pasar Modal Indonesia. Penerapan tersebut didukung oleh sistem utama KSEI, yaitu The Central Depository and Book Entry Settlement System (C-BEST).

Melihat perkembangan transaksi di pasar modal kita yang sudah sangat cepat, serta perkembangan sistem dan teknologi yang sudah semakin maju, KSEI berinisiatif melakukan pengembangan berkelanjutan atas sistem C-BEST melalui generasi baru C-BEST Next Generation (Next-G) pada 8 Agustus 2018. Peluncuran C-BEST Next-G merupakan upaya KSEI dalam mendukung perkembangan Pasar Modal Indonesia terutama dari sisi peningkatan jumlah investor dan peningkatan jumlah penyelesaian transaksi. Upaya meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi diwujudkan KSEI melalui kewajiban kepemilikan Single Investor Identification (SID) pada tahun 2012. SID sebagai nomor identitas tunggal bagi investor yang memberikan kemudahan pada proses identifikasi investor sekaligus landasan berbagai pengembangan pasar modal lainnya, termasuk fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas). 

Pada tahun 2016, KSEI telah mengimplementasikan sistem pengelolaan investasi terpadu (S-INVEST), sehingga Pasar Modal Indonesia memiliki platform yang terintegrasi untuk industri pengelolaan investasi. Terobosan tersebut berhasil mengantarkan KSEI meraih penghargaan sebagai The Best Central Securities Depository in Southeast Asia in 2016 versi Alpha Southeast Asia Magazine dan menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang memiliki sistem pengelolaan investasi terpadu. Optimisme dan dedikasi menjadi penyulut semangat KSEI untuk memajukan Pasar Modal Indonesia. Dengan dukungan dari pemegang saham yang terdiri dari SRO (BEI dan KPEI), Perusahaan Efek, Bank Kustodian, dan Biro Administrasi Efek, KSEI terus melaju mewujudkan kinerja terbaik melalui berbagai inisiatif. Beragam inisiatif yang diterapkan serta riset yang diaplikasikan, terus dikembangkan secara berkelanjutan agar sesuai dengan tren industri terkini serta kebutuhan pasar.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Kustodian”]

Pihak yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain yang berkaitan dengan efek serta jasa lain, termasuk menerima devidenbunga, dan hak – hak lain, menyelesaikan transaksi efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Lembar Saham”]

Laba bersih per saham atau yang sering kita sebut dengan earning per share adalah pembagian antara laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan di periode tertentu dengan jumlah saham yang beredar (outstanding shares).

Hal ini dilakukan untuk menstandarisasi satuan, antara harga saham dengan laba bersih per saham. Tidak mungkin kan, membandingkan harga saham yang Rp. 5000 dengan laba bersih perusahaan sebesar Rp. 5 Miliar rupiah (misalnya).

Jadi kita perlu kalkulasi yang apple to apple: jika bandingkan harga, harus dengan laba bersih per saham. Jika membantingkan laba bersih total, harus dengan kapitalisasi pasar.

Kalkulasinya begini:

  • Laba perusahaan adalah Rp. 5.000.000.000
  • Jumlah lembar saham (outstaning shares) perusahaan adalah 2.500.000 lembar
  • Maka, laba bersih per saham adalah Rp. 5.000.000.000 / 2.500.000 = Rp. 2.000 / lembar saham (ini sering disebut juga dengan EPS atau earning per share.

Dari sinilah, kita bisa lebih mudah membandingkan antara laba dengan harga (Price Earning Ratio), Deviden dengan laba (Dividend Payout Ratio), dengan yang lain – lainnya.

Semoga bermanfaat!

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Laba Per Lembar Saham”]

Laba bersih per saham atau yang sering kita sebut dengan earning per share adalah pembagian antara laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan di periode tertentu dengan jumlah saham yang beredar (outstanding shares).

Hal ini dilakukan untuk menstandarisasi satuan, antara harga saham dengan laba bersih per saham. Tidak mungkin kan, membandingkan harga saham yang Rp. 5000 dengan laba bersih perusahaan sebesar Rp. 5 Miliar rupiah (misalnya).

Jadi kita perlu kalkulasi yang apple to apple: jika bandingkan harga, harus dengan laba bersih per saham. Jika membantingkan laba bersih total, harus dengan kapitalisasi pasar.

Kalkulasinya begini:

  • Laba perusahaan adalah Rp. 5.000.000.000
  • Jumlah lembar saham (outstaning shares) perusahaan adalah 2.500.000 lembar
  • Maka, laba bersih per saham adalah Rp. 5.000.000.000 / 2.500.000 = Rp. 2.000 / lembar saham (ini sering disebut juga dengan EPS atau earning per share.

Dari sinilah, kita bisa lebih mudah membandingkan antara laba dengan harga (Price Earning Ratio), Deviden dengan laba (Dividend Payout Ratio), dengan yang lain – lainnya.

Semoga bermanfaat!

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Likuiditas Saham”]

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Limit Order”]

Amanat jual/ beli efek tertentu dari suatu perusahaan yang dilaksanakan pada batas harga yang ditetapkan atau amanat jual beli sekuritas pada batas harga tertentu.

[/accordion-item]

[/accordion]

[/col]
[col span=”3″ span__sm=”12″]

[accordion]

[accordion-item title=”Lot Saham”]

Saham apapun yang kamu beli, ada syarat minimal pembeliannya lho. Kamu tidak bisa beli 1 lembar saham saja, atau 50 lembar saham saja.

Minimal pembelian saham itu adalah 1 lot dan kelipatannya.

1 lot itu adalah 100 lembar saham.

Jadi jika kamu membeli saham BBCA (data 24 Agustus 2015) di harga Rp. 11.500, maka minimum pembelian kamu adalah 1 lot yang nilainya adalah:

  • Rp.11.500 / lembar x 1 lot
  • Rp. 11.500 / lembar x 100 lembar
  • Nilai beli: Rp. 1.150.000 sebelum biaya transaksi(biaya transaksi tergantung broker masing – masing ya)

Kamu bisa beli saham 1 lot saja, atau 100 lot, atau 999 lot, atau 1.000.000 lot. Yang penting, harus bulat kelipatan 1 lot.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”LQ45 IDX”]

LQ45 adalah sebuah indeks dari banyak indeks yang tersedia di Bursa Efek Indonesia. LQ-45 ini adalah kumpulan saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia yang memiliki likuiditas tinggi di pasar. Jadi bisa dikatakan bahwa untuk membeli maupun menjual saham – saham yang ada dalam list LQ45 sangat amat mudah, baik menggunakan dana kecil (jutaan) hingga dana raksasa (puluhan miliar).

Kamu mau tau bagaimana menyusun indeks LQ45 ini? Ini referensi yang kami sampaikan kembali dari idx.co.id

  • Dimulai dengan mencari 60 saham dengan nilai transaksi (value) tertinggi dalam 12 bulan terakhir
  • Dari 60 saham di atas, dipilihlah 45 saham dengan pembobotan tertentu mempertimbangkan beberapa hal seperti: Kapitalisasi pasar, aktivitas transaksi harian, serta frekuensi transaksi dalam 12 bulan terakhir.
  • Saham – saham dalam list haruslah saham yang bobotnya diperhitungkan dalam perhitungan IHSG
  • Sudah IPO / listing di IDX minimal 3 bulan
  • Perusahaan harus memiliki fundamental yang baik, frekuensi transaksi yang tinggi, dan berpotensi tumbuh secara bisnis.

List saham – saham di atas akan di review ulang per 6 bulan. Oleh karena itu daftar saham LQ45 akan berubah isinya setiap 6 bulan sekali, setiap bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Manajer Investasi”]

atau fund manager, pihak yang kegiatannya mengelola portfolio efek untuk para nasabah atau mengelola portfolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Market Capitalization”]

Market Capitalization atau Kapitalisasi Pasar adalah harga total / nilai total dari sebuah perusahaan, dalam hal ini adalah sebuah perusahaan yang telah go public. Jika perusahaan tersebut tercatat di bursa efek Indonesia, maka sangat mudah menilai kapitalisasi pasar.

Rumus Menghitung Market Capitalization = Market Price x Outstanding Shares

[/accordion-item]
[accordion-item title=”MKBD Perusahaan Efek”]

Modal Kerja Bersih Disesuaikan atau yang sering disebut MKBD adalah darah bagi perusahaan sekuritas dalam perannya sebagai perantara perdagangan efek.

Merujuk pada PERATURAN NO. III-A TENTANG KEANGGOTAAN BURSA, definisi MKBD adalah jumlah aset lancar perusahaan efek (sekuritas anggora bursa/AB) dikurangi seluruh liabilitas (kewajiban) dan ranking liabilities (kewajiban terperingkat), ditambah dengan utang subordinasi, serta dilakukan penyesuaian-penyesuaian lain.

MKBD, sebagaimana modal kerja di perusahaan – perusahaan konvensional berguna untuk membiayai operasional perusahaan sekuritas. Semakin tinggi MKBD, semakin baik operasionalnya.

Mengapa sekuritas butuh MKBD yang tinggi? Kan hanya perantara saja. Ga ada material, peralatan, atau bahan baku yang dibeli.

Nah mungkin banyak yang tidak tahu bahwa ketika kamu menggunakan sekuritas XX bertransaksi beli saham ABCD misalnya 100 juta rupiah, membeli saham dari sekuritas YY, maka 2 hari setelah transaksi (T+2) sekuritas XX membayar dulu saham yang kamu beli dari sekuritas YY. Lalu sekuritas XX mengirimkan saham ABCD ke rekening efek kamu kemudian mendebit sejumlah uang dari RDN untuk menutup transaksi. Ini istilahnya adalah proses settlement saham.

Jadi disini, sekuritas butuh duit bukan untuk melakukan settlement?

Coba bayangkan sebuah institusi beli saham dengan nominal 200 miliar, kalau MKBD sekuritas XX hanya 30 miliar, gimana tuh ceritanya?

Anyway, kalau perusahaan punya nasabah – nasabah kakap seperti institusi, hedge fund, foreign investors, maka MKBD mereka mau ga mau harus besar. Karena nasabah kakap akan melihat MKBD sebagai standar awal. Dan kalau nasabahnya kakap, maka tim risetnya pun akan berkualitas. Karena tim riset adalah prioritas pula bagi nasabah besar dalam membuka rekening saham. Lah kita kan ritel, apa gunanya MKBD? Ya itung – itung kecipratan kualitas & fasilitasnya lha.

Jadi kamu mengerti ya mengenai MKBD?

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Nabung Saham”]

Salah satu strategi meraih keuntungan di pasar modal Indonesia adalah investasi saham jangka panjang dengan konsisten. Istilah kekiniannya: Nabung Saham.

Kebanyakan orang masuk ke pasar saham untuk melanjukan transaksi jual beli demi mendapatkan capital gain. Beberapa orang berinvestasi dengan cara membeli saham perusahaan yang dianggapnya bagus, dan disimpan dalam waktu yang lama.

Nabung saham menitikberatkan opsi kedua, yakni membeli saham perusahaan (emiten) bagus untuk disimpan jangka panjang. Tujuannya tentu untuk meningkatkan aset secara optimal. Coba tebak, hari ini (November 2020) sebuah saham perbankan berada di harga Rp. 30.000,-. Kalau kita sudah simpan saham ini, katakan 12 tahun yang lalu, sudah untung berapa? Kita perlu tahu, 12 tahun yang lalu, harga saham ini ada di level Rp. 3.000,-!!!. Ini berarti uang 30 Juta menjadi 300 juta. Uang 300 Juta menjadi 3 miliar. Tahu perusahaan apa ini? (Baca disini)

Pertanyaannya, bagaimana strategi investasinya? Bagaimana investment plan-nya? Apakah beli dalam jumlah banyak di awal, 1x beli saja? Atau beli menunggu pasar crash? Kalau pasar bergerak naik, apakah harus beli segera? Atau menunggu waktu yang lebih ideal?

Pertanyaan ini pasti sering melintas di kepala Anda, walaupun Anda bukan untuk investasi saham namun sekedar trading saham, pertanyaan di atas selalu muncul dan jelas sulit sekali dijawab bukan?

Idealnya sih, ketika harga turun ke (masih di) Rp. 3000,- belilah saham ini sebanyak – banyaknya. Kalau bisa sampai gadaikan rumah, mobil, motor. Tapi, bagaimana ketika waktu itu dana kita masih terbatas, rumah pun belum punya untuk digadaikan? Pendapatan Anda Rp. 10.000.000,-, bisa disisihkan Rp. 2.000.000,-. Bagaimana caranya ketika harga saham di Rp. 3.000,- dibelikan 100 juta (tabungan pun kurang)?

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Nyangkut”]

Apakah Anda mengalami nyangkut di saham? Harganya turun terus, Anda masih simpan terus, dan yakin (atau mulai ragi) bahwa sahamnya adalah saham bagus?

Pengalaman nyangkut memang tidak menyenangkan. Namun hal ini sering dialami oleh banyak orang. Bahkan ada yang rugi miliaran karena nyangkut di saham yang tidak pernah naik lagi. Sayangi uang Anda.

Sebabnya nyangkut di saham itu sederhana: Kita membeli saham dengan harapan naik, namun ternyata harganya turun. Sayang sekali, kita tidak akan pernah bisa mendikte pasar untuk naikin harga saham. Pasar selalu benar, market is always right. Alhasil, karena tidak rela jual rugi (dengan alasan: perusahaannya bagus kok, fundamentalnya bagus kok, terbesar di Asia kok, dan beribu – ribu – ribu – ribu alasan lainnya), kita terus menahan posisi saham yang harganya terus turun. Biasanya karena terlalu pede, yang dilakukan adalah average down. Average down akan jadi mesin penghancur keuangan jika dilakukan dengan awalan yang salah. Simak mengenai penjelasan average down di artikel berikut: Harga turun terus, aveage down saja: HATI – HATI!

Kenapa sih kita terjebak? Utamanya sih karena kita ga punya metode yang jelas + tidak ada pengendalian diri. Cek infografiknya ya. Ada 6 poin, dan dibawah ini penjelasan per point: enjoy!

  1. Tidak paham tren naik sudah berakhir. Anda jadi pahlawan buat yang menjual di harga atas:)
  2. Memburu saham yang naik terus alhasil terjebak membeli di harga tertinggi. Kembali menjadi pahlawan buat si penjual.
  3. Trading jangka pendek terus. Harga naik terus trading. Karena ga rela dulu untungnya dikit. Makin hari makin besar tradingnya dan pakai marjin. Anda pahlawan buat bayar fee.
  4. Saham lagi turun dibeli, bahkan average down, bahkan gadai rumah. Local hero is coming to town.
  5. Awalnya trading, tapi harga turun: ah jadi investor aja. Pahlawan buat yang distribusi.
  6. Awalnya mau invest, harga naik dikit malah trading. Akhirnya kena di poin nomor 2 & 3. Jadi pahlawan di market lagi.

Jadilah pahlawan bagi diri sendiri & keluarga Anda, bukan buat market yang sama sekali ga kenal Anda?
.
Jangan pernah memulai transaksi saham kalau Anda tidak punya metode, tidak berkomitmen menjalankan trading plan, dan sering terpancing berita ataupun rumor – rumor saham. Segera pelajari, kuasai, dan kendalikan transaksi Anda bersama program GaleriSahamSystematic Trading Management for Mega Profit untuk belajar teknikal dengan metode yang jelas dan sederhana.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bid Offer Saham”]

Anda sudah buka rekening saham, sudah install online trading apps Anda, dan bingung gimana lihat harga dan cara beli sahamnya? Ini menunya banyak banget, mana yang dilihat? Well, Anda perlu tahu mengenai Bid & Offer di saham yang Anda inginkan. Tempatnya ada di bagian: stock quote.

Stock quote adalah data yang berisi harga sebuah saham dimana kita akan mengetahui harga permintaan (bid) maupun harga penawaran (offer) di pasar di saat itu (real time). Disini Anda bisa melihat para pembeli dari harga tertinggi hingga terendah, serta para penjual dari harga terendah hingga tertinggi.

Dengan mengetahui sekumpulan harga di sisi pembeli dan di sisi penjual, Anda bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di pasar saat itu, apakah lebih banyak calon pembeli daripada calon penjual, atau sebaliknya lebih banyak calon penjual daripada calon pembeli. Ingat, semua yang ada di bid offer saham ini adalah bersifat antrian. belum tentu harga tercapai ke level yang Anda inginkan.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Blue Chip”]

Perusahaan bluechip adalah perusahaan unggulan di pasar modal dan menjadi buruan para investor besar maupun investor asing. Umumnya perusaan bluechip itu memiliki karakter antara lain:

  1. Skala bisnisnya besar, baik nasional maupun internasional.
  2. Sudah ada di pasar modal lebih dari 5 tahun.
  3. Memiliki produk yang sangat besar penetrasinya di pasar
  4. Memiliki laporan keuangan yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.
  5. Banyak dimiliki oleh dana besar seperti reksadana, dana pensiun, asuransi, dan sebagainya.
  6. Kinerja bisnis tergolong tahan banting, bahkan di tengah kondisi ekonomi yang tidak terlalu bagus sekalipun.

Saham beluechip umumnya memberikan peluang bagi kita sebagai investor untuk berinvestasi jangka panjang, bahkan sangat panjang hingga pensiun, dan kita bisa menikmati pertumbuhan bisnis yang luar biasa dari waktu ke waktu dan menikmati passive income dari deviden.

Jika poin – poin di atas merupakan ciri – ciri saham bluechip, pengen tahu ga sih apa sih ciri – ciri perusahaan yang sahamnya sangat layak kita beli untuk investasi jangka panjang dan bisa memberikan keuntungan lebih tinggi di atas rata – rata? Ada 3 ciri – ciri penting nih:

  1. Business modelnya solid dan prospektif
  2. Management & owner-nya kredibel
  3. Laporan keuangan historisnya sangat baik dan bertumbuh

Tiga ciri – ciri perusahaan istimewa di atas di atas harus terpenuhi sebelum Anda memulai investasi saham (ingat, investasi beda dengan trading saham ya), dan dengan memilih saham tersebut, investasi saham Anda, baik dengan strategi lump sum investing maupun dollar cost average (DCA) atau yang sering dikenal dengan strategi nabung saham bisa memberikan hasil yang luar biasa tingginya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bottom Reversal”]

Perubahan sebuah tren dari tren turun menjadi tren naik. Jika bottom reversal dapat diidentifikasi, potensi keuntungan trader maupun investor akan lebih optimal karena berkesempatan membeli di awal fase bullish dan keuntungan lebih maksimal jika dalam meyimpan saham ini sepanjang fase rally-nya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bullish”]

Sebuah kondisi dimana harga bergerak naik ke atas (uptrend), dianalogikan dengan tanduk banteng (bull) yang naik ke atas.

Fokus GaleriSaham adalah menemukan dan merekomendasikan saham yang berpotensi uptrend (bullish) menggunakan konnsep TREND OPTIMIZER.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bursa Efek”]

Bursa efek adalah seperti pasar tradisional. Ada banyak brand penjual dan beragam pembeli di dalamnya. Jadi, bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak – pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka.

Setiap perusahaan yang sudah melakukan proses initial public offering (IPO) maka secara resmi sudah membuka diri untuk publik. Istilahnya: Go Public.

Dengan Go Public, semua hal berkaitan dengan perusahaan tersebut bisa diakses oleh semua orang, termasuk laporan keuangan, jadwal RUPS, keputusan RUPS, paparan publik atas rencana bisnis perusahaan, hingga harga saham-nya. Dengan Go Public, semua orang bisa membeli maupun menjual saham perusahaan yang tercatat (emiten) dimana wadahnya ada di bursa efek Indonesia.

Contoh lebih jelas bagaimana?

Analogi

Ketika sebuah lahan XYZ yang dimiliki & dikuasai perusahaan developer properti. Maka tidak ada yang bisa beli, kita tidak tahu harga pasarannya, dan kita tidak bisa memperjual belikan tanahnya karena milik sebuah perusahaan. Artinya, informasi seputar area tanah tersebut sangat tertutup.

Namun ketika lahan XYZ telah dimulai penjualannya, maka setiap orang bisa membeli lahan sebanyak yang mereka mau sesuai kemampuan keuangan mereka. Kita sudah bisa mengetahui harga per meter tanahnya, dan setelah membeli tahah, kita juga bisa menjualnya kembali ke orang lain apalagi jika area tanah yang dijual sudah habis. Disinilah timbul transaksi jual beli tanah, rumah, apartemen, dan sebagainya.

Sama seperti saham sebuah perusahaan go public. Jika sudah go public, maka saham bisa diperdagangkan sebagaimana kita memperdagangkan properti kita, dimana bursa efek adalah pasar tempat bertransaksinya.

Bedanya apa?

Bedanya, jika di properti kita bisa bertransaksi tanpa perantara / broker, langsung ke pemilik. Di pasar saham semua wajib melalui jasa perantara / broker saham. Ini menyebabkan harga saham begitu efisien dan bisa kita ketahui setiap saat.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Buy Back”]

Pembelian kembali saham – saham yang telah beredar di publik oleh emiten yang menerbitkan saham tersebut.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Buy on Weakness”]

Umumnya disingkat dengan BOW. Aktivitas membeli sebuah saham ketika harga melemah. Biasannya buy on weakness  dilakukan ketika harga bergerak turun cukup signifikan dalam waktu singkat, atau jika sebuah saham sudah turun cukup panjang.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Capital Gain”]

Keuntungan yang diperoleh karena perbedaan antara harga beli dan harga jual suatu efek. Apabila perbedaan tersebut bersifat negatif, maka dicebut capital loss. Jika saham tersebut tidak dijual, maka capital gain bersifat: UNREALIZED CAPITAL GAIN. Jika Saham tersebut telah dijual, maka bersifat: REALIZED CAPITAL GAIN. Jadi, capital gain itu tidak harus selalu direalisasi.

Jenis income ini adalah: 1) Active income jika aktif bertransaksi jual beli. 2) Portfolio income jika tidak direalisasi dalam jangka panjang. (Passive income datang dari: dividen)

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menabung Saham”]

Setelah rekening saham Anda aktif, ada beberapa step yang harus dilakukan untuk menjalani nabung saham dengan efektif:

  1. Anda harus I.N.G.A.T bahwa harga saham berfluktuatif dalam jangka pendek, namun selama performa perusahaannya bagus, dalam jangka panjang cenderung akan bertumbuh (lihat poin nomor 5 di bawah). Anda harus tetap disiplin terlepas harga pasar naik ataupun turun. Ini kuncinya ya.
  2. Tentukan dahulu, anda akan menyisihkan berapa % dari income bulanan Anda. Minimal 10%. Idealnya 20 – 30% seperti Anda sedang mencicil properti.
  3. Pastikan, ketika income Anda naik, persentase penyisihannya tetap sama (misalnya 20% dari income), dengan demikian Anda akan membeli saham lebih banyak dari waktu ke waktu
  4. Tentukan tanggal tetap Anda akan membeli sahamnya, apakah tanggal gajian Anda, atau tanggal berapapun. Pastikan beli hanya di tanggal tersebut.
  5. Pastikan nabung saham perusahaan yang: a) Laporan keuangannya selalu positif, mencetak laba dalam (minimal) 5 tahun terakhir, b) selalu mengalami pertumbuhan laba yang konsisten dari waktu ke waktu, c) market leader di industrinya.
  6. Idealnya, tabunglah saham yang rutin membagikan deviden. Jadi Anda tidak perlu menjual saham Anda untuk menikmati hasil investasi Anda yang terus berkembang.
  7. Cek harga pasar sahamnya sekarang. Pembelian saham minimal adalah 1 lot (100 lembar saham) dan berlaku kelipatannya. Jika harga pasar sahamnya di Rp. 17.000,- maka minimal pembelian adalah Rp. 17.000,- X 100 lembar = Rp. 1.700.000,-. Jika jumlah yang ingin Anda tabung per bulan adalah Rp. 1.000.000,-, maka membeli saham tersebut tidak memungkinkan. Anda bisa perbesar alokasi bulanan Anda untuk dapat membeli saham tersebut, atau pilih saham lain yang sesuai dengan kriteria poin nomot 5 di atas.
  8. Belilah saham yang sama dengan konsisten. Jangan diganti – ganti.
  9. Lakukan dengan disiplin, baik ketika market naik, maupun turun.

Jika hal ini dijalankan dengan konsisten, seiring dengan kenaikan pendapatan, nabung saham Anda juga meningkat, harga saham bertumbuh, Anda akan mendapatkan pertumbuhan aset yang luar biasa.

Eits, jangan lupa, ini belum termasuk deviden yang dibagikan per tahun kalau perusahaannya rutin membagikan deviden lho.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cum Date”]

Tanggal dimana, jika investor masih memegang aset / saham akan berhak diikutsertakan dalam corporate action perusahaan bersangkutan. Misalnya Cum date untuk pembagian deviden (cum deviden) adalah 1 Januari, maka semua pemegang saham yang memiliki saham tersebut hingga penutupan bursa di 1 Januari, akan mendapatkan deviden sesuai dengan penjadwalan dari emiten.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dead Cat Bounce”]

Kembali bersabar, dan menjadi penonton yang bijak.

Ketika harga turun terus (bearish), minat beli semakin tinggi (apalagi posisi yang dimiliki adalah FULL CASH), semakin harga bergerak turun, semakin saham – saham yang dipantaunya menarik. Siapapun setuju akan hal ini. Bagaikan kita membawa koper penuh uang ke dalam mall penuh diskon. Siapa yang tidak tergoda?

Ini ibarat kita bersiap – siap dalam posisi start pada perlombaan lari. Kita bersedia dan bersiap – siap, memacu diri ketika pistol start dibunyikan. DORR! Semua berlari.

DORR! itu bisa macam – macam:
1) Harga komoditas yang naik
2) Berita yang positif
3) Broker asing beli
4) Global market yang melonjak
5) Ajakan dalam hati: Kapan lagi kalau ga sekarang.

Apakah penurunan ini merupakan sesuatu yang buruk? Tergantung.

Jawaban: ‘Tergantung’ mungkin terdengar terlalu diplomatis, tapi ini alasannya:
1) Jika kita disiplin menjalankan trading plan yang berbasis trend optimizer, maka saham turun kita tidak punya. Penurunan adalah peluang.
2) Jika kita suka menampung harga turun, buy on weakness, maka penurunan adalah bencana. Baca: Sisi gelap average down.

Kita harus objektif dan berkepala dingin dalam menghadapi pasar seperti ini. Jangan sampai cash terlanjur habis dibelikan saham yang dirasa (dirasa, feeling, perasaan, dll) sudah murah.

Hati – hati dengan DEAD CAT BOUNCE

Sesuai dengan istilahnya, dead cat bounce adalah istilah yang dipopulerkan untuk menggambarkan ‘kenaikan sementara dalam tren turun’. Bahasa teknisnya adalah: technical rebound.

Jangan karena rebound 1 hari menjadikan kita panik beli, panik belanja, dan akhirnya cash habis, padahal trend masih negatif. Adalah wajar, turun 5 hari lalu rebound 1 hari, seperti wajarnya harga naik 5 hari turun 1 hari. Sikapi dengan kepala dingin. Ini bisa dilakukan jika Anda menguasai metode yang Anda gunakan.

Jangan sampai panik belanja, naik sedikit dijual, turun banyak di hold. Akhirnya portfolio bagaikan zombie. Ada, tapi tiada harapan.

Ada 2 opsi yang menurut kami layak Anda pertimbangkan. Pastikan Anda mengetahui motif Anda dengan jelas, Anda trader? Atau Anda investor? Jangan jadi bunglon.

Bagi trader, saham yang break support tren-nya wajib dijual. Karena Anda membeli saham untuk nantinya bergerak naik bisa dijual untung. Tidak ingin kan beli saham demi rugi, yang dibeli yang turun – turun semua? Trader wajib cutloss, dan saat ini hanya memiliki cash. Kelebihan Trader itu adalah: memiliki 3 sisi mata uang. Kalau fundamental hanya 2 sisi mata uang. Simak pembahasannya disini: 3 Sisi Mata Uang. Manfaatkan kelebihan Anda sebagai trader, terutama yang fokus pada trend optimizing method.

Bagi investor, ini kesempatan emas, mengoleksi saham yang berfundamental baik, keuangannya terus tumbuh, business modelnya solid, membagikan deviden secara rutin, dan sedang undervalue. 

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dilusi Saham”]

Dilusi saham adalah penurunan persentase kepemilikan saham karena adanya penambahan modal namun pemegang saham lama tidak berpartisipasi. Biasanya ini terjadi akibat adanya sebuah corporate action yang menjadikan pemegang saham lama ‘terdepak’, kehilangan suara dan tidak bisa mengendalikan perusahaan seperti sediakala.

Misalnya seorang investor punya saham 30%, maka hak votingnya juga 30%. Dengan corporate action bisa membuat suaranya turun menjadi 19%. (cek simulasinya di bawah)

Nah dilusi dapat terjadi jika perusahaan melakukan right issue atau private placement. Yuk kita lihat contoh dibawah ini.

PT. Dilusi Investama memiliki 1000 lembar saham yang terdiri dari 3 pemegang saham :

  • Alex : 400 lembar (40%)
  • Brian : 300 lembar (30%)
  • Anita : 300 lembar (30%)

 

PART 1: DILUSI AKIBAT RIGHT ISSUE

Karena persaingan yang semakin tinggi, pemegang saham sepakat untuk menambah jumlah cabang lebih cepat daripada kompetitor. Oleh karena kebutuhan untuk ekspansi ini, perusahaan butuh menambah 60% modal baru. Kesepakatan ini bisa dicapai dari persetujuan :

  • Alex + Brian saja (70% suara), atau
  • Alex + Anita saja (70% suara), atau
  • Brian + Anita saja (60% suara), atau
  • Alex + Brian + Anita (100% suara)

Menambah modal 60% berarti lembar saham pun akan bertambah 60%, yaitu 60% x 1000 lembar lama = 600 lembar saham baru. Dengan demikain, masing – masing pemegang saham lama memilki jatah menyetor modal proporsional (HMETD / Right) seperti di bawah ini:

  • Alex : 240 lembar (40%)
  • Brian : 180 lembar (30%)
  • Anita : 180 lembar (30%)

Mereka harus setor modal tambahan sesuai proporsi. Misalnya nilai per lembar saham adalah 1 juta, maka (sebagai contoh) Brian harus menyediakan dana 180 x Rp. 1.000.000,- = Rp. 180.000.000,-

Misalnya Brian tidak punya dana tunai, maka dia tidak bisa setor modal baru. Dan yang mengambil alih tambahan modal Brian adalah Alex, karena Anita pun hanya memiliki dana terbatas. Maka lembar saham baru akan dibagikan dengan porsi berikut :

  • Alex : 240 + 180 lembar
  • Brian : 0 lembar (180 lembar diambil alih Alex)
  • Anita : 180 lembar

Setelah penambahan modal baru, maka total lembar saham PT Dilusi Investama menjadi 1.600 lembar dengan komposisi baru adalah :

  • Alex : 400 + 240 + 180 = 820 lembar
  • Brian : 300 + 0 = 300 lembar
  • Anita : 300 + 180 = 480 lembar

Hak suara baru pun berubah menjadi:

  • Alex : 820 / 1600 lembar = 51%
  • Brian : 300 / 1600 lembar = 19%
  • Anita : 480 / 1600 lembar = 30%

Dengan hasil diatas, maka Brian terdilusi kepemilikannya dari 30% menjadi 19%. Alex meningkat porsi kepemilikannya dari 40% menjadi 51% karena dia menyetor tambahan lebih banyak dari yang lain. Sedangkan Anita memiliki proporsi yang sama seperti sebelumnya.

Dalam hal ini, Alex sekarang ‘menguasai’ perusahaan karena memiliki suara terbanyak (>50%). Brian dan Anita tidak bisa mengendalikan perusahaan walaupun mereka ‘satu suara’. Mengapa?

Dulu, gabungan suara Brian (30%) + Anita (30%) bisa mendominasi keputusan perusahaan (60%). Tapi sekarang, gabungan saham mereka hanya 49% (19% + 30%), kurang dari 50%

Jadi dalam setiap RUPS, maka keputusan Alex adalah keputusan mutlak.

 

PART 2: DILUSI AKIBAT PRIVATE PLACEMENT

Setelah right issue, diasumsikan PT Dilusi Investama berhasil berkembang dengan baik bisnisnya. Suatu ketika ada kebutuhan ekspansi kembali, kali ini ekspansi ke luar negeri. Dengan segala kebutuhan, perusahaan ini butuh penambahan modal sebanyak 25% ekuivalen 400 lembar (400/1600 = 25% saham baru). Nah, partner Alex, anggap namanya Grace, mampu menyediakan dana untuk kebutuhan modal baru. Alex bisa saja melakukan private placement : Menerbitkan saham baru untuk diserap oleh pemegang saham baru (Grace). Ingat, Grace bukanlah pemegang saham lama.

Private placement tetap memerlukan RUPS dan kesepakatan antar pemegang saham. Namun hak suara Brian dan Anita jika ingin menolak private placement tidak akan berhasil karena kurang dari 50% suara (hanya 49% saja). Jadi Alex secara struktur bisa memutuskan kebijakan Private Placement kepada Grace.

Dengan demikian lembar saham yang ada akan menjadi : 1600 (lama) + 400 (baru, Grace) = 2000 dengan komposisi kepemilikan saham menjadi :

  • Alex : 820 lembar (sama seperti dulu)
  • Brian : 300 lembar (sama seperti dulu)
  • Anita : 480 lembar (sama seperti dulu)
  • Grace : 400 lembar (Pendatang baru)

Hak suara para pemegang saham setelah private placement menjadi :

  • Alex : 820 / 2000 = 41% (turun dari 51%)
  • Brian : 300 / 2000 = 15% (turun dari 19%)
  • Anita : 480 / 2000 = 24% (turun dari 30%)
  • Grace : 400 / 2000 = 20%

Dari data di atas, maka Private Placement mengakibatkan terjadinya dilusi saham Alex, Brian, dan Anita.

Coba bayangkan, karena Alex dan Grace adalah partner, maka kombinasi suara mereka adalah 41% + 20% = 62%, maka ‘Alex & the gang’ semakin mendominasi perusahaan. Sebaliknya, Brian semakin kehilangan kendali di perusahaan, demikian pula dengan Anita.

Nah, coba kamu bayangkan kalau private placement bukan hanya sekedar 400 lembar (25%), namun 1600 lembar (100%) baru. Seberapa besar dilusi yang terjadi?

Apakah baik untuk bisnis perusahaan?
Apakah Baik untuk pemegang saham lama?

Semua itu relatif bukan?

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden”]

Dividen adalah bagian dari laba atau pendapatan perusahaan yang ditetapkan oleh direksi (dan disahkan oleh RUPS) untuk dibagikan kepada pemegang saham. Pembayarannya diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada jenis saham yang ada.

 

Karena deviden adalah pembagian laba bersih, maka umumnya deviden dibagikan 1x dalam 1 tahun. Namun tetap bisa beberapa kali (dividen interim), tergantung kebijakan perusahaan.

Anda tidak perlu menjual saham untuk mendapatkan dividen. Jenis income ini: passive income. Deviden merupakan satu – satunya jenis keuntungan dari saham yang memiliki sifat: passive income. Cukup memiliki sahamnya, maka setiap ada pembagian keuntungan, investor akan menerimanya secara otomatis.

Passive income rate dari investasi saham sering disebut dengan Dividend Yield

CONTOH:

PT GLSM harga pasarnya saat ini di 800. memperoleh laba per saham (EPS) sebesar Rp.150,-. Kebijakan perusahaan adalah membagikan deviden minimal 40% dari laba bersih. Maka dari itu:

  • Dividend Payout Ratio (DPR)-nya adalah = 40%
  • Dividend per Share = DPR x EPS = 40% x Rp. 150,- = RP.60,-
  • Dividend Yield = DPR / Market Price = Rp.60,- / Rp. 1.500,- = 8%

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menghitung Deviden Saham”]

Deviden adalah bagian laba atau pendapatan perusahaan yang ditetapkan oleh direksi (dan disahkan oleh RUPS) untuk dibagikan kepada pemegang saham. Pembayarannya diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada jenis saham yang ada.

Untuk menghitung deviden saham, ada beberapa data yang harus Anda ketahui antara lain:

  1. Laba bersih perusahaan ataupun laba bersih per saham (EPS)
  2. Dividend Payout Ratio (DPR)
  3. Jumlah saham beredar / outstanding shares

CONTOH:

Sebuah perusahaan (PT GLSM) memiliki 1.000.000 lembar saham mencetak keuntungan bersih sebesar Rp. 150.375.000,- (lihat contoh laporan keuangannya disini: Analisa Laporan Keuangan Perusahaan). Kebijakan pembagian deviden perusahaam (DPR) adalah 40% dari laba bersih dibagikan sebagai deviden. Dengan demikian kita bisa menghitung deviden sebagai berikut:

  1. Deviden = Laba bersih x DPR = Rp. 150.375.000,- x 40% =  Rp. 60.150.000,-
  2. Deviden per saham = Deviden / saham beredar = Rp. 60.150.000,- / 1.000.000 = Rp. 60,15 per lembar saham

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden Payout Ratio”]

Apa itu Dividend Payout Ratio?

Tidak semua laba dibagikan kepada para pemegang saham. Ada persentase tertentu dari laba perusahaan yang dibayarkan sebagai deviden kas kepada pemegang saham dan itu sesuai dengan kebijakan manajemen dalam RUPS.

Misalnya sebuah perusahaan laba bersihnya Rp. 150.375.000,-. Dari laba tersebut, dibagikan 40% kepada pemegang saham berupa deviden tentunya. Nah, 40% ini adalah yang disebut sebagai Dividend Payout Ratio.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden Yield”]

Apa itu Dividend Yield?

Dividend yield adalah jumlah deviden saham tahunan dari suatu perusahaan yang dinyatakan dalam persentase dari harga pasar terakhir dari saham perusahaan tersebut. Dividend yield yang tinggi menunjukkan ada potensi passive income yang menarik dari saham yang dimiliki oleh investor.

Cara menghitunng dividend yield adalah membagi nominal deviden per lembar saham dengan harga Anda beli saham.

Misalnya sebuah perusahaan (PT GLSM) memiliki data sebagai berikut:

  • Deviden per lembar saham = Rp. 60,-
  • Harga beli Anda di Rp. 1.500,-

Dengan demikian, rumus menghitung dividend yield adalah Rp.60,- / Rp.1.500,- = 4%. Tinggi atau rendah? Ini tergantung cost of fund Anda.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dividen Interim”]

Kita tahu bahwa perusahaan yang manajemennya oke dan keuangannya sehat selalu membagikan deviden. Dividen (bahasa inggris: dividend) merupakan pembagian sebagiaan keuntungan tahun tertentu kepada para pemegang sahamnya. Artinya, jadwal bagi deviden pada umumnya adalah 1x setahun (baca: mengapa deviden itu sangat penting)

Namun ada kalanya perusahaan tidak membagikan deviden 1x setahun saja. Bisa jadi perusahaan membagikan deviden beberapa kali, namun tentunya jumlah deviden yang dibagikan tidak kebablasan dari Dividend Payout Ratio yang sudah ditetapkan manajemen ya.

Jadi bisa saja perusahaan membagikan deviden beberapa kali, misalnya 1x di bulan desember, dan 1x lagi setelah tutup buku di bulan April misalnya. yang penting, pembagian deviden tidak akan melampaui batas payout ratio per kinerja keuangan akhir tahun.

Misalnya begini: Perusahaan menetapkan kebijakan dividend payout ratio 40%, artinya dari earning per share (PT GLSM) RP. 150,-, dividen yang dibagikan ada di angka RP.60,-. Nah, misalnya di kuartal 3 (tentu belum penuh 1 tahun aktivitas bisnis ya), perusahaan sudah mengantongi laba dengan ekuivalen per lembar saham adalah RP.100,-. Maka boleh dong, perusahaan membagikan deviden sebelum menunggu tutup buku akhir tahun?

Jadi perhitungannya begini:

  • Deviden interim: 40% x RP.100,- = RP.40,- / lembar
  • Laba per lembar saham (Earning per share / EPS) tahun berjalan di Rp.150,-
  • Alokasi deviden 1 tahun = 40% x RP.150,- = RP.60,- / lembar
  • Deviden yang dibagikan setelah tutup buku tahun berjalan = 60 – 40 = Rp.20,- / lembar saham.

Masih banyak variasi dari deviden interim, kadang ada perusahaan yang sampai membagikan deviden 5x setahun. Jadi semuanya kembali ke kebijakan perusahaan ya. Demikian penjelasan mengenai Dividen Interim, semoga bermanfaat:)

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Downtrend”]

Kecenderungan pergerakan harga saham turun secara terus menerus.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menghitung Earning Per Share (EPS)”]

Bagi yang ingin memahami rumus earning per share, coba cek ulasan di bawah ini terlebih dahulu.

Laba bersih per saham atau yang sering kita sebut dengan earning per share adalah pembagian antara laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan di periode tertentu dengan jumlah saham yang beredar (outstanding shares).

Hal ini dilakukan untuk menstandarisasi satuan antara laba bersih perusahaan dengan lembar saham yang diterbitkan. Ini juga untuk mempermudah para pemegang saham berapa keuntungan dari setiap lembar saham yang mereka punya. Karena setiap pemegang saham tidak sama jumlah kepemilikannya (lembar sahamnya).

Misalnya Danny yang memiliki 1000 lembar saham, dan Grace yang memiliki 1232 lembar saham. Bagaimana cara mengetahui berapa keuntungan per lembar saham yang dimiliki masing – masing? Semua harus dibagi sesuai lembar saham yang ada di perusahaan tersebut.

Kita perlu kalkulasi secara apple to apple (atau samsung to samsung #ehh): jika bandingkan harga, harus dengan laba bersih per saham. Jika membantingkan laba bersih total, harus dengan kapitalisasi pasar.

Cara menghitung Earning Per Share adalah sebagai berikut:

  • Laba perusahaan adalah Rp. 150.375.000,-
  • Jumlah lembar saham perusahaan adalah 1.000.000 lembar
  • Maka, laba bersih per saham adalah Rp. 150.375.000,- / 1.000.000 lembar = Rp. 150 / lembar saham (ini sering disebut juga dengan EPS atau earning per share.

Dari sinilah, Danny dan Grace bisa menghitung berapa porsi laba atas kepemilikan saham perusahaan mereka masing – masing bukan?

Dan jika ini adalah perusahaan terbuka yang tercatat di bursa efek, maka kita bisa lebih mudah membandingkan antara laba dengan harga (Price Earning Ratio), Deviden dengan laba (Dividend Payout Ratio), dengan yang lain – lainnya.

Ingat, laba bersih bukan apa yang akan diterima oleh pemegang saham ya. Yang akan diterima pemegang saham adalah Deviden.

Semoga bermanfaat!

[/accordion-item]

[/accordion]

[/col]
[col span=”3″ span__sm=”12″]

[accordion]

[accordion-item title=”Analisa Fundamental Saham”]

Analisa fundamental merupakan salah satu dari dua metode bagi investor untuk menilai sebuah perusahaan layak di beli atau tidak. Pembelian saham perusahaan menggunakan analisa fundamental memiliki tujuan untuk investasi jangka Panjang dengan durasi investasi minimal di atas 3 tahun. 
 

Sangat keliru jika analisa fundamental dipakai untuk membeli saham yang diharapkan bulan depan bisa naik, semester besok bisa naik, bahkan tahun depan akan tumbuh. Jika ingin mencari saham demikian, maka lebih tepat menggunakan Analisa teknikal daripada Analisa fundamental. 

Analisa fundamental adalah analisa mendalam sebuah perusahaan, dan kita perlu ingat bahwa penjualan & laba bersih perusahaan tidak bergerak naik turun tajam seperti harga saham. Jadi, efek dari Analisa fundamental akan terpengaruh oleh kinerja perusahaan dan sifatnya adalah jangka panjang. 
 

Analisa fundamental yang digunakan untuk membeli saham sebuah perusahaan sama persis seperti melakukan proyeksi bisnis ketika kamu akan membuka bisnis baru dari NOL. Berapa penjualannya? Berapa marginnya? Berapa estimasi profitnya? Namun bedanya adalah, ketika buka bisnis dari NOL, kamu tidak ada data historis. Hanya kata si A, kata si B, serta feeling. Ketika beli saham di bursa efek, ada data masa lalu yang bisa dipelajari dan dianalisa. Jadi, dengan investasi fundamental saham, kamu SELANGKAH DI DEPAN daripada buka bisnis dari NOL. 

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Analisa Teknikal Saham”]

Dear All,

Banyak sekali pendekatan/ metode dalam melakukan transaksi jual beli saham. Bahkan tidak sedikit kita mendapat rekomendasi dari pihak – pihak lain mengenai apa yang bagus dan apa yang jelek. Tetapi apakah kita sudah menemukan metode yang terbaik bagi diri kita sendiri? Atau kita masih hanyut di market meraba – raba metode yang paling cocok dan akhirnya hasilnya negatif?

Apakah anda sering mengalami hal – hal seperti di bawah ini:

  1. Beli saham yang beritanya bagus, malah harga bergerak turun.
  2. Menjual saham yang beritanya jelek, malah harga bergerak naik.
  3. Membeli saham yang PER & PBV paling rendah, harga tidak naik – naik
  4. Menjual saham yang PER & PBV paling tinggi, harga terus melambung
  5. Beli saham yang banyak rumor positif-nya, naik hanya sekejap lalu turun kembali. Atau tidak bergerak sama sekali.
  6. Jual saham ketika bursa global turun, harga turun sesaat saja lalu terus bergerak naik
  7. Meraih keuntungan dari trading jangka pendek, tapi tidak mengikuti  ketika saham tersebut rally hingga 100%.
  8. Meraih keuntungan dari trading jangka pendek, tapi nyangkut ketika saham tersebut anjlok 25 – 50%
  9. Tidak melakukan apa – apa karena bingung apa yang harus dibeli / dijual

Jika anda banyak menjawab YA pada hal – hal di atas, maka anda perlu melanjutkan membaca di bawah ini:)

Hal di atas sering kita alami karena kita tidak memperhitungkan ‘Timing & Momentum’. Timing & Momentum menjadi faktor yang menentukan seberapa cepat / lambat sebuah saham akan bergerak sesuai dengan kalkulasi. Dengan mengetahui Timing & Momentum, kita bisa memaksimalkan dana kita untuk alokasi saham – saham yang berpeluang naik, ataupun seleksi saham – saham yang berpeluang turun.

Di bursa terdapat 450+ saham. Banyak perusahan jelek, tapi tidak sedikit pula perusahaan yang bagus. Perusahaan bagus sahamnya pun belum tentu bagus. Apa maksudnya? Good Company not always have Good Stock. Perusahaan yang fundamentalnya bagus (laba bersih, prospek jangka panjang, manajemen, dll) bisa jadi pergerakan sahamnya tidak likuid dan bergerak tanpa arah yang jelas. Jika perusahaan bagus saja sahamnya belum tentu bagus, apalagi perusahaan yang jelek. Setuju?

Jadi ketika anda menganalisa saham berdasarkan fundamental seperti valuasi, nilai intrinsik, atau yang lebih sederhana seperti PER, PBV, dll, anda berada dalam tahapan mencari perusahan yang bagus (Good Company). Pertanyaannya, apakah selanjutnya saham perusahaan ini bagus (Good Stock)?

Bagaimana menentukan saham ini bagus apa tidak? Dengan melihat apakah pergerakannya bagus apa tidak. Naik apa tidak? Likuid apa tidak? Pergerakannya bisa diprediksi apa tidak? Ini jawaban yang harus anda temukan. Mencari perusahaan yang baik saja itu lebih mudah daripada mencari saham perusahaan bagus yang juga bergerak bagus:)

Disinilah analisa teknikal memegang peranan. Semua berkaitan dengan Timing & Momentum. Dengan kemampuan menganalisa waktu dan momentum, kita dapat fokus pada saham bagus, meminimalisir bias pada informasi, rumor, sentimen eksternal, dll. Dengan demikian kita akan lebih objektif dalam mengambil keputusan.

Bayangkan jika anda bisa memilih Good Company with Good Stock, investasi / trading anda akan memberikan keuntungan yang maksimal bukan?

Apakah ada risiko? Tentu ada. Yaitu jika harga saham bergerak negatif. Entah karena sudah naik ketinggian, atau perusahaan yang awalnya berfundamental bagus menjadi jelek karena faktor – faktor eksternal maupun internal. Hal ini dapat diantisipasi lebih cepat dengan menggunakan analisa teknikal.

Jadi, analisa teknikal dalam penerapan yang tepat dapat membantu anda lebih cepat membeli saham yang akan bergerak dalam tren naik dan lebih cepat menjual saham yang akan bergerak dalam tren turun. Dengan demikian, akankah anda mengalami nyangkut? Entah nyangkut singkat maupun nyangkut bertahun – tahun? Tentu tidak bukan.

Terakhir, analisa teknikal (serta fundamental) menuntut kedisiplinan dari penggunanya. Dengan disiplin melaksanakannya, maka hasil trading/ investasi anda akan maksimal dan anda akan selalu dapat mengantisipasi apapun kondisi yang terjadi di bursa akibat faktor eksternal maupun internal.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Auto Rejection”]

Penolakan otomatis oleh JATS terhadap penawaran jual dana atau permintaan beli efek yang dimasukkan ke JATS akibat dilammpauinya batas harga yang ditetapkan oleh bursa.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bearish”]

Sebuah kondisi dimana harga bergerak turun kebawah (downtrend), dianalogikan dengan gerakan beruang (bear) yang membungkuk ketika memangsa.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Beli Saham Online”]

Gimana Cara Beli Saham & Prosesnya

  1. Buka aplikasi online trading (OLT) yang disediakan broker saham kamu.
  2. Lakukan order beli saham.
  3. Setelah kamu dapat sahamnya, kamu akan dikonfirmasi oleh broker saham bahwa kamu dapat saham BBCA di harga Rp.11.500 sebanyak 10 Lot.
  4. Di akhir hari bursa, sekuritas akan mengirimkan Trade Confirmation.
  5. Sesuai dengan peraturan bursa, proses settlement transaksi jual beli saham itu adalah 2 hari kerja (T+2). Artinya, jika kamu beli saham di hari Senin, 24 Agustus 2015, maka settlement terjadi pada hari Rabu, 26 Agustus 2015.
  6. Settlement itu apa? Sederhananya, yang beli, dapat barang (saham) nya dan harus bayar uangnya. Yang jual dapat uangnya, kirim barangnya. Tenang, semua ini yang urus sekuritas via rekening saham kamu.
  7. Jadi pada hari Rabu, 27 Agustus 2015, uang di RDN kamu akan berkurang sebanyak Rp.11.500.000,-, portfolio saham kamu akan ada tambahan BBCA 10 lot di harga beli Rp. 11.500,-

Jadi kebayang ya, proses dari awal mula beli saham hingga proses settlement kamu dapet sahamnya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Biaya Simpan Saham”]

Banyak juga yang bertanya apakah ada biaya jika kita menyimpan saham, baik biaya bulanan atau tahunan. Nah menariknya investasi saham ini adalah tidak ada biaya apapun selama kita menyimpan saham kita. Baik menyimpan hanya 1 bulan hingga puluhan tahun. 

Berbeda ya dengan investasi properti, dimana ada biaya service charge bulanan, atau biaya RT/RW, atau bahkan biaya pajak (PBB) tahunan. 

Untuk investasi saham, tidak ada biaya apapun selama menyimpan saham. Yang ada malah dapet duit terus, jika saham yang disimpan perusahaannya terus berkembang dan rutin membagikan dividen.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Biaya Transaksi Saham”]

Setiap transaksi saham pasti ada biayanya. Baik transaksi beli maupun transaksi jual. Nah, biaya transaksi, atau bahasa kerennya fee transaksi ini akan berbeda – beda setiap broker. Namun kisaran fee transaksi itu di 0.1% – 0.3% dari total nominal transaksi kita. Kecil kan? Ga seperti fee transaksi broker property yang kisarannnya 1% – 3%.

Makin tinggi fee transaksi, biasanya layanan dari perusahaan sekuritas semakin tinggi pula. Termasuk kualitas analisa, layanan nasabah, dan sebagainya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bid Offer Saham”]

Anda sudah buka rekening saham, sudah install online trading apps Anda, dan bingung gimana lihat harga dan cara beli sahamnya? Ini menunya banyak banget, mana yang dilihat? Well, Anda perlu tahu mengenai Bid & Offer di saham yang Anda inginkan. Tempatnya ada di bagian: stock quote.

Stock quote adalah data yang berisi harga sebuah saham dimana kita akan mengetahui harga permintaan (bid) maupun harga penawaran (offer) di pasar di saat itu (real time). Disini Anda bisa melihat para pembeli dari harga tertinggi hingga terendah, serta para penjual dari harga terendah hingga tertinggi.

Dengan mengetahui sekumpulan harga di sisi pembeli dan di sisi penjual, Anda bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di pasar saat itu, apakah lebih banyak calon pembeli daripada calon penjual, atau sebaliknya lebih banyak calon penjual daripada calon pembeli. Ingat, semua yang ada di bid offer saham ini adalah bersifat antrian. belum tentu harga tercapai ke level yang Anda inginkan.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Blue Chip”]

Perusahaan bluechip adalah perusahaan unggulan di pasar modal dan menjadi buruan para investor besar maupun investor asing. Umumnya perusaan bluechip itu memiliki karakter antara lain:

  1. Skala bisnisnya besar, baik nasional maupun internasional.
  2. Sudah ada di pasar modal lebih dari 5 tahun.
  3. Memiliki produk yang sangat besar penetrasinya di pasar
  4. Memiliki laporan keuangan yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.
  5. Banyak dimiliki oleh dana besar seperti reksadana, dana pensiun, asuransi, dan sebagainya.
  6. Kinerja bisnis tergolong tahan banting, bahkan di tengah kondisi ekonomi yang tidak terlalu bagus sekalipun.

Saham beluechip umumnya memberikan peluang bagi kita sebagai investor untuk berinvestasi jangka panjang, bahkan sangat panjang hingga pensiun, dan kita bisa menikmati pertumbuhan bisnis yang luar biasa dari waktu ke waktu dan menikmati passive income dari deviden.

Jika poin – poin di atas merupakan ciri – ciri saham bluechip, pengen tahu ga sih apa sih ciri – ciri perusahaan yang sahamnya sangat layak kita beli untuk investasi jangka panjang dan bisa memberikan keuntungan lebih tinggi di atas rata – rata? Ada 3 ciri – ciri penting nih:

  1. Business modelnya solid dan prospektif
  2. Management & owner-nya kredibel
  3. Laporan keuangan historisnya sangat baik dan bertumbuh

Tiga ciri – ciri perusahaan istimewa di atas di atas harus terpenuhi sebelum Anda memulai investasi saham (ingat, investasi beda dengan trading saham ya), dan dengan memilih saham tersebut, investasi saham Anda, baik dengan strategi lump sum investing maupun dollar cost average (DCA) atau yang sering dikenal dengan strategi nabung saham bisa memberikan hasil yang luar biasa tingginya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bottom Reversal”]

Perubahan sebuah tren dari tren turun menjadi tren naik. Jika bottom reversal dapat diidentifikasi, potensi keuntungan trader maupun investor akan lebih optimal karena berkesempatan membeli di awal fase bullish dan keuntungan lebih maksimal jika dalam meyimpan saham ini sepanjang fase rally-nya.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bullish”]

Sebuah kondisi dimana harga bergerak naik ke atas (uptrend), dianalogikan dengan tanduk banteng (bull) yang naik ke atas.

Fokus GaleriSaham adalah menemukan dan merekomendasikan saham yang berpotensi uptrend (bullish) menggunakan konnsep TREND OPTIMIZER.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Bursa Efek”]

Bursa efek adalah seperti pasar tradisional. Ada banyak brand penjual dan beragam pembeli di dalamnya. Jadi, bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak – pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka.

Setiap perusahaan yang sudah melakukan proses initial public offering (IPO) maka secara resmi sudah membuka diri untuk publik. Istilahnya: Go Public.

Dengan Go Public, semua hal berkaitan dengan perusahaan tersebut bisa diakses oleh semua orang, termasuk laporan keuangan, jadwal RUPS, keputusan RUPS, paparan publik atas rencana bisnis perusahaan, hingga harga saham-nya. Dengan Go Public, semua orang bisa membeli maupun menjual saham perusahaan yang tercatat (emiten) dimana wadahnya ada di bursa efek Indonesia.

Contoh lebih jelas bagaimana?

Analogi

Ketika sebuah lahan XYZ yang dimiliki & dikuasai perusahaan developer properti. Maka tidak ada yang bisa beli, kita tidak tahu harga pasarannya, dan kita tidak bisa memperjual belikan tanahnya karena milik sebuah perusahaan. Artinya, informasi seputar area tanah tersebut sangat tertutup.

Namun ketika lahan XYZ telah dimulai penjualannya, maka setiap orang bisa membeli lahan sebanyak yang mereka mau sesuai kemampuan keuangan mereka. Kita sudah bisa mengetahui harga per meter tanahnya, dan setelah membeli tahah, kita juga bisa menjualnya kembali ke orang lain apalagi jika area tanah yang dijual sudah habis. Disinilah timbul transaksi jual beli tanah, rumah, apartemen, dan sebagainya.

Sama seperti saham sebuah perusahaan go public. Jika sudah go public, maka saham bisa diperdagangkan sebagaimana kita memperdagangkan properti kita, dimana bursa efek adalah pasar tempat bertransaksinya.

Bedanya apa?

Bedanya, jika di properti kita bisa bertransaksi tanpa perantara / broker, langsung ke pemilik. Di pasar saham semua wajib melalui jasa perantara / broker saham. Ini menyebabkan harga saham begitu efisien dan bisa kita ketahui setiap saat.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Buy Back”]

Pembelian kembali saham – saham yang telah beredar di publik oleh emiten yang menerbitkan saham tersebut.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Buy on Weakness”]

Umumnya disingkat dengan BOW. Aktivitas membeli sebuah saham ketika harga melemah. Biasannya buy on weakness  dilakukan ketika harga bergerak turun cukup signifikan dalam waktu singkat, atau jika sebuah saham sudah turun cukup panjang.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Capital Gain”]

Keuntungan yang diperoleh karena perbedaan antara harga beli dan harga jual suatu efek. Apabila perbedaan tersebut bersifat negatif, maka dicebut capital loss. Jika saham tersebut tidak dijual, maka capital gain bersifat: UNREALIZED CAPITAL GAIN. Jika Saham tersebut telah dijual, maka bersifat: REALIZED CAPITAL GAIN. Jadi, capital gain itu tidak harus selalu direalisasi.

Jenis income ini adalah: 1) Active income jika aktif bertransaksi jual beli. 2) Portfolio income jika tidak direalisasi dalam jangka panjang. (Passive income datang dari: dividen)

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menabung Saham”]

Setelah rekening saham Anda aktif, ada beberapa step yang harus dilakukan untuk menjalani nabung saham dengan efektif:

  1. Anda harus I.N.G.A.T bahwa harga saham berfluktuatif dalam jangka pendek, namun selama performa perusahaannya bagus, dalam jangka panjang cenderung akan bertumbuh (lihat poin nomor 5 di bawah). Anda harus tetap disiplin terlepas harga pasar naik ataupun turun. Ini kuncinya ya.
  2. Tentukan dahulu, anda akan menyisihkan berapa % dari income bulanan Anda. Minimal 10%. Idealnya 20 – 30% seperti Anda sedang mencicil properti.
  3. Pastikan, ketika income Anda naik, persentase penyisihannya tetap sama (misalnya 20% dari income), dengan demikian Anda akan membeli saham lebih banyak dari waktu ke waktu
  4. Tentukan tanggal tetap Anda akan membeli sahamnya, apakah tanggal gajian Anda, atau tanggal berapapun. Pastikan beli hanya di tanggal tersebut.
  5. Pastikan nabung saham perusahaan yang: a) Laporan keuangannya selalu positif, mencetak laba dalam (minimal) 5 tahun terakhir, b) selalu mengalami pertumbuhan laba yang konsisten dari waktu ke waktu, c) market leader di industrinya.
  6. Idealnya, tabunglah saham yang rutin membagikan deviden. Jadi Anda tidak perlu menjual saham Anda untuk menikmati hasil investasi Anda yang terus berkembang.
  7. Cek harga pasar sahamnya sekarang. Pembelian saham minimal adalah 1 lot (100 lembar saham) dan berlaku kelipatannya. Jika harga pasar sahamnya di Rp. 17.000,- maka minimal pembelian adalah Rp. 17.000,- X 100 lembar = Rp. 1.700.000,-. Jika jumlah yang ingin Anda tabung per bulan adalah Rp. 1.000.000,-, maka membeli saham tersebut tidak memungkinkan. Anda bisa perbesar alokasi bulanan Anda untuk dapat membeli saham tersebut, atau pilih saham lain yang sesuai dengan kriteria poin nomot 5 di atas.
  8. Belilah saham yang sama dengan konsisten. Jangan diganti – ganti.
  9. Lakukan dengan disiplin, baik ketika market naik, maupun turun.

Jika hal ini dijalankan dengan konsisten, seiring dengan kenaikan pendapatan, nabung saham Anda juga meningkat, harga saham bertumbuh, Anda akan mendapatkan pertumbuhan aset yang luar biasa.

Eits, jangan lupa, ini belum termasuk deviden yang dibagikan per tahun kalau perusahaannya rutin membagikan deviden lho.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cum Date”]

Tanggal dimana, jika investor masih memegang aset / saham akan berhak diikutsertakan dalam corporate action perusahaan bersangkutan. Misalnya Cum date untuk pembagian deviden (cum deviden) adalah 1 Januari, maka semua pemegang saham yang memiliki saham tersebut hingga penutupan bursa di 1 Januari, akan mendapatkan deviden sesuai dengan penjadwalan dari emiten.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dead Cat Bounce”]

Kembali bersabar, dan menjadi penonton yang bijak.

Ketika harga turun terus (bearish), minat beli semakin tinggi (apalagi posisi yang dimiliki adalah FULL CASH), semakin harga bergerak turun, semakin saham – saham yang dipantaunya menarik. Siapapun setuju akan hal ini. Bagaikan kita membawa koper penuh uang ke dalam mall penuh diskon. Siapa yang tidak tergoda?

Ini ibarat kita bersiap – siap dalam posisi start pada perlombaan lari. Kita bersedia dan bersiap – siap, memacu diri ketika pistol start dibunyikan. DORR! Semua berlari.

DORR! itu bisa macam – macam:
1) Harga komoditas yang naik
2) Berita yang positif
3) Broker asing beli
4) Global market yang melonjak
5) Ajakan dalam hati: Kapan lagi kalau ga sekarang.

Apakah penurunan ini merupakan sesuatu yang buruk? Tergantung.

Jawaban: ‘Tergantung’ mungkin terdengar terlalu diplomatis, tapi ini alasannya:
1) Jika kita disiplin menjalankan trading plan yang berbasis trend optimizer, maka saham turun kita tidak punya. Penurunan adalah peluang.
2) Jika kita suka menampung harga turun, buy on weakness, maka penurunan adalah bencana. Baca: Sisi gelap average down.

Kita harus objektif dan berkepala dingin dalam menghadapi pasar seperti ini. Jangan sampai cash terlanjur habis dibelikan saham yang dirasa (dirasa, feeling, perasaan, dll) sudah murah.

Hati – hati dengan DEAD CAT BOUNCE

Sesuai dengan istilahnya, dead cat bounce adalah istilah yang dipopulerkan untuk menggambarkan ‘kenaikan sementara dalam tren turun’. Bahasa teknisnya adalah: technical rebound.

Jangan karena rebound 1 hari menjadikan kita panik beli, panik belanja, dan akhirnya cash habis, padahal trend masih negatif. Adalah wajar, turun 5 hari lalu rebound 1 hari, seperti wajarnya harga naik 5 hari turun 1 hari. Sikapi dengan kepala dingin. Ini bisa dilakukan jika Anda menguasai metode yang Anda gunakan.

Jangan sampai panik belanja, naik sedikit dijual, turun banyak di hold. Akhirnya portfolio bagaikan zombie. Ada, tapi tiada harapan.

Ada 2 opsi yang menurut kami layak Anda pertimbangkan. Pastikan Anda mengetahui motif Anda dengan jelas, Anda trader? Atau Anda investor? Jangan jadi bunglon.

Bagi trader, saham yang break support tren-nya wajib dijual. Karena Anda membeli saham untuk nantinya bergerak naik bisa dijual untung. Tidak ingin kan beli saham demi rugi, yang dibeli yang turun – turun semua? Trader wajib cutloss, dan saat ini hanya memiliki cash. Kelebihan Trader itu adalah: memiliki 3 sisi mata uang. Kalau fundamental hanya 2 sisi mata uang. Simak pembahasannya disini: 3 Sisi Mata Uang. Manfaatkan kelebihan Anda sebagai trader, terutama yang fokus pada trend optimizing method.

Bagi investor, ini kesempatan emas, mengoleksi saham yang berfundamental baik, keuangannya terus tumbuh, business modelnya solid, membagikan deviden secara rutin, dan sedang undervalue. 

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dilusi Saham”]

Dilusi saham adalah penurunan persentase kepemilikan saham karena adanya penambahan modal namun pemegang saham lama tidak berpartisipasi. Biasanya ini terjadi akibat adanya sebuah corporate action yang menjadikan pemegang saham lama ‘terdepak’, kehilangan suara dan tidak bisa mengendalikan perusahaan seperti sediakala.

Misalnya seorang investor punya saham 30%, maka hak votingnya juga 30%. Dengan corporate action bisa membuat suaranya turun menjadi 19%. (cek simulasinya di bawah)

Nah dilusi dapat terjadi jika perusahaan melakukan right issue atau private placement. Yuk kita lihat contoh dibawah ini.

PT. Dilusi Investama memiliki 1000 lembar saham yang terdiri dari 3 pemegang saham :

  • Alex : 400 lembar (40%)
  • Brian : 300 lembar (30%)
  • Anita : 300 lembar (30%)

 

PART 1: DILUSI AKIBAT RIGHT ISSUE

Karena persaingan yang semakin tinggi, pemegang saham sepakat untuk menambah jumlah cabang lebih cepat daripada kompetitor. Oleh karena kebutuhan untuk ekspansi ini, perusahaan butuh menambah 60% modal baru. Kesepakatan ini bisa dicapai dari persetujuan :

  • Alex + Brian saja (70% suara), atau
  • Alex + Anita saja (70% suara), atau
  • Brian + Anita saja (60% suara), atau
  • Alex + Brian + Anita (100% suara)

Menambah modal 60% berarti lembar saham pun akan bertambah 60%, yaitu 60% x 1000 lembar lama = 600 lembar saham baru. Dengan demikain, masing – masing pemegang saham lama memilki jatah menyetor modal proporsional (HMETD / Right) seperti di bawah ini:

  • Alex : 240 lembar (40%)
  • Brian : 180 lembar (30%)
  • Anita : 180 lembar (30%)

Mereka harus setor modal tambahan sesuai proporsi. Misalnya nilai per lembar saham adalah 1 juta, maka (sebagai contoh) Brian harus menyediakan dana 180 x Rp. 1.000.000,- = Rp. 180.000.000,-

Misalnya Brian tidak punya dana tunai, maka dia tidak bisa setor modal baru. Dan yang mengambil alih tambahan modal Brian adalah Alex, karena Anita pun hanya memiliki dana terbatas. Maka lembar saham baru akan dibagikan dengan porsi berikut :

  • Alex : 240 + 180 lembar
  • Brian : 0 lembar (180 lembar diambil alih Alex)
  • Anita : 180 lembar

Setelah penambahan modal baru, maka total lembar saham PT Dilusi Investama menjadi 1.600 lembar dengan komposisi baru adalah :

  • Alex : 400 + 240 + 180 = 820 lembar
  • Brian : 300 + 0 = 300 lembar
  • Anita : 300 + 180 = 480 lembar

Hak suara baru pun berubah menjadi:

  • Alex : 820 / 1600 lembar = 51%
  • Brian : 300 / 1600 lembar = 19%
  • Anita : 480 / 1600 lembar = 30%

Dengan hasil diatas, maka Brian terdilusi kepemilikannya dari 30% menjadi 19%. Alex meningkat porsi kepemilikannya dari 40% menjadi 51% karena dia menyetor tambahan lebih banyak dari yang lain. Sedangkan Anita memiliki proporsi yang sama seperti sebelumnya.

Dalam hal ini, Alex sekarang ‘menguasai’ perusahaan karena memiliki suara terbanyak (>50%). Brian dan Anita tidak bisa mengendalikan perusahaan walaupun mereka ‘satu suara’. Mengapa?

Dulu, gabungan suara Brian (30%) + Anita (30%) bisa mendominasi keputusan perusahaan (60%). Tapi sekarang, gabungan saham mereka hanya 49% (19% + 30%), kurang dari 50%

Jadi dalam setiap RUPS, maka keputusan Alex adalah keputusan mutlak.

 

PART 2: DILUSI AKIBAT PRIVATE PLACEMENT

Setelah right issue, diasumsikan PT Dilusi Investama berhasil berkembang dengan baik bisnisnya. Suatu ketika ada kebutuhan ekspansi kembali, kali ini ekspansi ke luar negeri. Dengan segala kebutuhan, perusahaan ini butuh penambahan modal sebanyak 25% ekuivalen 400 lembar (400/1600 = 25% saham baru). Nah, partner Alex, anggap namanya Grace, mampu menyediakan dana untuk kebutuhan modal baru. Alex bisa saja melakukan private placement : Menerbitkan saham baru untuk diserap oleh pemegang saham baru (Grace). Ingat, Grace bukanlah pemegang saham lama.

Private placement tetap memerlukan RUPS dan kesepakatan antar pemegang saham. Namun hak suara Brian dan Anita jika ingin menolak private placement tidak akan berhasil karena kurang dari 50% suara (hanya 49% saja). Jadi Alex secara struktur bisa memutuskan kebijakan Private Placement kepada Grace.

Dengan demikian lembar saham yang ada akan menjadi : 1600 (lama) + 400 (baru, Grace) = 2000 dengan komposisi kepemilikan saham menjadi :

  • Alex : 820 lembar (sama seperti dulu)
  • Brian : 300 lembar (sama seperti dulu)
  • Anita : 480 lembar (sama seperti dulu)
  • Grace : 400 lembar (Pendatang baru)

Hak suara para pemegang saham setelah private placement menjadi :

  • Alex : 820 / 2000 = 41% (turun dari 51%)
  • Brian : 300 / 2000 = 15% (turun dari 19%)
  • Anita : 480 / 2000 = 24% (turun dari 30%)
  • Grace : 400 / 2000 = 20%

Dari data di atas, maka Private Placement mengakibatkan terjadinya dilusi saham Alex, Brian, dan Anita.

Coba bayangkan, karena Alex dan Grace adalah partner, maka kombinasi suara mereka adalah 41% + 20% = 62%, maka ‘Alex & the gang’ semakin mendominasi perusahaan. Sebaliknya, Brian semakin kehilangan kendali di perusahaan, demikian pula dengan Anita.

Nah, coba kamu bayangkan kalau private placement bukan hanya sekedar 400 lembar (25%), namun 1600 lembar (100%) baru. Seberapa besar dilusi yang terjadi?

Apakah baik untuk bisnis perusahaan?
Apakah Baik untuk pemegang saham lama?

Semua itu relatif bukan?

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden”]

Dividen adalah bagian dari laba atau pendapatan perusahaan yang ditetapkan oleh direksi (dan disahkan oleh RUPS) untuk dibagikan kepada pemegang saham. Pembayarannya diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada jenis saham yang ada.

 

Karena deviden adalah pembagian laba bersih, maka umumnya deviden dibagikan 1x dalam 1 tahun. Namun tetap bisa beberapa kali (dividen interim), tergantung kebijakan perusahaan.

Anda tidak perlu menjual saham untuk mendapatkan dividen. Jenis income ini: passive income. Deviden merupakan satu – satunya jenis keuntungan dari saham yang memiliki sifat: passive income. Cukup memiliki sahamnya, maka setiap ada pembagian keuntungan, investor akan menerimanya secara otomatis.

Passive income rate dari investasi saham sering disebut dengan Dividend Yield

CONTOH:

PT GLSM harga pasarnya saat ini di 800. memperoleh laba per saham (EPS) sebesar Rp.150,-. Kebijakan perusahaan adalah membagikan deviden minimal 40% dari laba bersih. Maka dari itu:

  • Dividend Payout Ratio (DPR)-nya adalah = 40%
  • Dividend per Share = DPR x EPS = 40% x Rp. 150,- = RP.60,-
  • Dividend Yield = DPR / Market Price = Rp.60,- / Rp. 1.500,- = 8%

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menghitung Deviden Saham”]

Deviden adalah bagian laba atau pendapatan perusahaan yang ditetapkan oleh direksi (dan disahkan oleh RUPS) untuk dibagikan kepada pemegang saham. Pembayarannya diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada jenis saham yang ada.

Untuk menghitung deviden saham, ada beberapa data yang harus Anda ketahui antara lain:

  1. Laba bersih perusahaan ataupun laba bersih per saham (EPS)
  2. Dividend Payout Ratio (DPR)
  3. Jumlah saham beredar / outstanding shares

CONTOH:

Sebuah perusahaan (PT GLSM) memiliki 1.000.000 lembar saham mencetak keuntungan bersih sebesar Rp. 150.375.000,- (lihat contoh laporan keuangannya disini: Analisa Laporan Keuangan Perusahaan). Kebijakan pembagian deviden perusahaam (DPR) adalah 40% dari laba bersih dibagikan sebagai deviden. Dengan demikian kita bisa menghitung deviden sebagai berikut:

  1. Deviden = Laba bersih x DPR = Rp. 150.375.000,- x 40% =  Rp. 60.150.000,-
  2. Deviden per saham = Deviden / saham beredar = Rp. 60.150.000,- / 1.000.000 = Rp. 60,15 per lembar saham

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden Payout Ratio”]

Apa itu Dividend Payout Ratio?

Tidak semua laba dibagikan kepada para pemegang saham. Ada persentase tertentu dari laba perusahaan yang dibayarkan sebagai deviden kas kepada pemegang saham dan itu sesuai dengan kebijakan manajemen dalam RUPS.

Misalnya sebuah perusahaan laba bersihnya Rp. 150.375.000,-. Dari laba tersebut, dibagikan 40% kepada pemegang saham berupa deviden tentunya. Nah, 40% ini adalah yang disebut sebagai Dividend Payout Ratio.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Deviden Yield”]

Apa itu Dividend Yield?

Dividend yield adalah jumlah deviden saham tahunan dari suatu perusahaan yang dinyatakan dalam persentase dari harga pasar terakhir dari saham perusahaan tersebut. Dividend yield yang tinggi menunjukkan ada potensi passive income yang menarik dari saham yang dimiliki oleh investor.

Cara menghitunng dividend yield adalah membagi nominal deviden per lembar saham dengan harga Anda beli saham.

Misalnya sebuah perusahaan (PT GLSM) memiliki data sebagai berikut:

  • Deviden per lembar saham = Rp. 60,-
  • Harga beli Anda di Rp. 1.500,-

Dengan demikian, rumus menghitung dividend yield adalah Rp.60,- / Rp.1.500,- = 4%. Tinggi atau rendah? Ini tergantung cost of fund Anda.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Dividen Interim”]

Kita tahu bahwa perusahaan yang manajemennya oke dan keuangannya sehat selalu membagikan deviden. Dividen (bahasa inggris: dividend) merupakan pembagian sebagiaan keuntungan tahun tertentu kepada para pemegang sahamnya. Artinya, jadwal bagi deviden pada umumnya adalah 1x setahun (baca: mengapa deviden itu sangat penting)

Namun ada kalanya perusahaan tidak membagikan deviden 1x setahun saja. Bisa jadi perusahaan membagikan deviden beberapa kali, namun tentunya jumlah deviden yang dibagikan tidak kebablasan dari Dividend Payout Ratio yang sudah ditetapkan manajemen ya.

Jadi bisa saja perusahaan membagikan deviden beberapa kali, misalnya 1x di bulan desember, dan 1x lagi setelah tutup buku di bulan April misalnya. yang penting, pembagian deviden tidak akan melampaui batas payout ratio per kinerja keuangan akhir tahun.

Misalnya begini: Perusahaan menetapkan kebijakan dividend payout ratio 40%, artinya dari earning per share (PT GLSM) RP. 150,-, dividen yang dibagikan ada di angka RP.60,-. Nah, misalnya di kuartal 3 (tentu belum penuh 1 tahun aktivitas bisnis ya), perusahaan sudah mengantongi laba dengan ekuivalen per lembar saham adalah RP.100,-. Maka boleh dong, perusahaan membagikan deviden sebelum menunggu tutup buku akhir tahun?

Jadi perhitungannya begini:

  • Deviden interim: 40% x RP.100,- = RP.40,- / lembar
  • Laba per lembar saham (Earning per share / EPS) tahun berjalan di Rp.150,-
  • Alokasi deviden 1 tahun = 40% x RP.150,- = RP.60,- / lembar
  • Deviden yang dibagikan setelah tutup buku tahun berjalan = 60 – 40 = Rp.20,- / lembar saham.

Masih banyak variasi dari deviden interim, kadang ada perusahaan yang sampai membagikan deviden 5x setahun. Jadi semuanya kembali ke kebijakan perusahaan ya. Demikian penjelasan mengenai Dividen Interim, semoga bermanfaat:)

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Downtrend”]

Kecenderungan pergerakan harga saham turun secara terus menerus.

[/accordion-item]
[accordion-item title=”Cara Menghitung Earning Per Share (EPS)”]

Bagi yang ingin memahami rumus earning per share, coba cek ulasan di bawah ini terlebih dahulu.

Laba bersih per saham atau yang sering kita sebut dengan earning per share adalah pembagian antara laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan di periode tertentu dengan jumlah saham yang beredar (outstanding shares).

Hal ini dilakukan untuk menstandarisasi satuan antara laba bersih perusahaan dengan lembar saham yang diterbitkan. Ini juga untuk mempermudah para pemegang saham berapa keuntungan dari setiap lembar saham yang mereka punya. Karena setiap pemegang saham tidak sama jumlah kepemilikannya (lembar sahamnya).

Misalnya Danny yang memiliki 1000 lembar saham, dan Grace yang memiliki 1232 lembar saham. Bagaimana cara mengetahui berapa keuntungan per lembar saham yang dimiliki masing – masing? Semua harus dibagi sesuai lembar saham yang ada di perusahaan tersebut.

Kita perlu kalkulasi secara apple to apple (atau samsung to samsung #ehh): jika bandingkan harga, harus dengan laba bersih per saham. Jika membantingkan laba bersih total, harus dengan kapitalisasi pasar.

Cara menghitung Earning Per Share adalah sebagai berikut:

  • Laba perusahaan adalah Rp. 150.375.000,-
  • Jumlah lembar saham perusahaan adalah 1.000.000 lembar
  • Maka, laba bersih per saham adalah Rp. 150.375.000,- / 1.000.000 lembar = Rp. 150 / lembar saham (ini sering disebut juga dengan EPS atau earning per share.

Dari sinilah, Danny dan Grace bisa menghitung berapa porsi laba atas kepemilikan saham perusahaan mereka masing – masing bukan?

Dan jika ini adalah perusahaan terbuka yang tercatat di bursa efek, maka kita bisa lebih mudah membandingkan antara laba dengan harga (Price Earning Ratio), Deviden dengan laba (Dividend Payout Ratio), dengan yang lain – lainnya.

Ingat, laba bersih bukan apa yang akan diterima oleh pemegang saham ya. Yang akan diterima pemegang saham adalah Deviden.

Semoga bermanfaat!

[/accordion-item]

[/accordion]

[/col]

[/row]